Halo, Sobat TGR! Wah, suasana Lebaran masih terasa kuat ,ya! Saling bertemu anggota keluarga dan kerabat, bertukar cerita antara Sobat TGR dan mereka yang jarang bertemu, hingga mencoba mengingat-ingat kembali silsilah keluarga besar yang tak jarang makin banyak anggotanya, duh! Eh, tapi Sobat TGR pernah memperhatikan nggak, kalau si kecil mungkin makin banyak bertanya karena penasaran dengan wajah-wajah baru yang jarang mereka temui? Bagaimana Sobat TGR menjelaskan kepada si kecil bahwa Sobat TGR juga belum tahu jawabannya, namun tidak ingin membuat si kecil minder untuk bertanya lagi?
Sejak usia dini, anak-anak terus mengajukan pertanyaan karena sedang aktif membangun pemahaman tentang dunia. Penelitian menunjukkan bahwa interaksi orang tua memberi pengaruh terhadap rasa ingin tahu pada anak kecil, termasuk dorongan untuk eksplorasi mandiri dan kebiasaan bertanya (Iwasaki et al., 2023). Rasa ingin tahu akan hal baru sebenarnya bisa dianggap hal yang alami bagi manusia. Mulai dari anak-anak hingga dewasa, hal ini krusial untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. (Chaplin, 2022).
Lima Dampak Penting dari Cara Orang Tua Merespons Pertanyaan Anak
Ayo kita bahas satu per satu dampak penting yang perlu Sobat TGR ketahui tentang cara merespons pertanyaan anak!
1. Mendorong atau Memadamkan Rasa Ingin Tahu
Ilustrasi mendorong rasa ingin tahu pada anak-anak
(Dokumentasi TGR Community, 2026)
Rasa ingin tahu adalah bahan bakar utama bagi proses belajar anak. Ketika orang tua merespons pertanyaan anak dengan antusias dan terbuka, rasa ingin tahu anak akan semakin tumbuh. Sebaliknya, respons yang tidak bersahabat seperti "Ah, nggak penting itu" atau "Udah, nggak usah banyak tanya" dapat membuat anak enggan bertanya di kemudian hari.
Sebuah studi dari Kyoto University yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology menemukan bahwa kualitas respons orang tua, khususnya kehangatan dan keterlibatan orang tua dalam aktivitas belajar anak, berkorelasi positif dengan rasa ingin tahu anak. Penelitian ini menegaskan bahwa orang tua yang responsif dan suportif mendorong anak untuk lebih aktif menjelajahi lingkungannya (Iwasaki et al., 2023).
2. Membangun atau Merusak Kepercayaan Diri Anak
Ilustrasi membangun kepercayaan diri pada anak
(Dokumentasi TGR Community, 2026)
Cara orang tua merespons pertanyaan anak juga memengaruhi bagaimana anak memandang dirinya sendiri. Respons yang hangat dan sabar memberi sinyal kepada anak bahwa pendapat dan rasa penasaran mereka itu berharga. Sebuah penelitian yang melibatkan 859 anak di Tiongkok Tengah menemukan bahwa respons orang tua yang positif terhadap performa anak, secara signifikan meningkatkan harga diri anak. Sebaliknya, respons yang berorientasi pada kegagalan berdampak negatif terhadap kepercayaan diri anak (Huang et al., 2022).
3. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis

Ilustrasi mengembangkan kemampuan berpikir kritis dengan permainan tradisional
(Dokumentasi TGR Community, 2026)
Orang tua yang tidak sekadar menjawab, tetapi juga mengajak anak berpikir bersama, membantu anak mengembangkan kemampuan bernalar. Pendekatan ini dikenal dalam dunia pendidikan sebagai dialogic talk, yaitu percakapan yang memposisikan anak sebagai pemikir aktif, bukan sekadar penerima informasi pasif. Studi yang diterbitkan dalam Journal of Family Psychology menemukan bahwa aplikasi digital yang mendorong pertanyaan yang bersifat terbuka dalam kegiatan membaca bersama orang tua. Hal tersebut secara signifikan meningkatkan kualitas percakapan orang tua dan anak yang ditandai dengan lebih banyak giliran berbicara yang bermakna dan koneksi yang lebih dalam dengan kehidupan sehari-hari (Stuckelman et al., 2022).
4. Memperkuat Ikatan Emosional Orang Tua dan Anak

Ilustrasi memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak
(Dokumentasi TGR Community, 2026)
Setiap kali orang tua meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan anak dengan sungguh-sungguh, mereka sedang membangun jembatan kepercayaan. Anak yang merasa didengar dan dihargai cenderung lebih terbuka berkomunikasi dengan orang tuanya, termasuk saat menghadapi masalah yang lebih serius di kemudian hari.
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa pola asuh yang penuh kehangatan dan kasih sayang pada anak usia 12 tahun, diprediksi dapat membantu mereka mengelola emosi dengan lebih baik saat anak menginjak usia 14 tahun. Pengelolaan emosi ini memberikan dampak positif dengan mengurangi masalah internal pada anak usia 15 tahun (Boullion et al., 2023). Ini menunjukkan betapa kuatnya dampak jangka panjang dari kualitas interaksi emosional antara orang tua dan anak, yang salah satu bentuk konkretnya adalah bagaimana orang tua merespons pertanyaan-pertanyaan kecil anak setiap harinya.
5. Mendukung Pengelolaan Emosi dan Ketangguhan Anak

Ilustrasi anak mengelola emosinya
(Dokumentasi TGR Community, 2026)
Penelitian terkini menunjukkan bahwa cara orang tua merespons ekspresi emosional anak memiliki dampak signifikan terhadap kemampuan anak dalam mengelola emosinya. Gee & Cohodes (2021) mengembangkan konsep parental meta-emotion philosophy, yaitu seperangkat keyakinan dan kesadaran orang tua terhadap emosi anak, yang terbukti memengaruhi berbagai luaran perkembangan, mulai dari respons biologis terhadap stres hingga fungsi kognitif anak. Orang tua yang memiliki kesadaran tinggi terhadap emosi anak dan memberikan respons yang suportif, termasuk ketika menjawab pertanyaan anak yang mungkin muncul dari kecemasan atau kebingungan, cenderung memiliki anak dengan kemampuan regulasi emosi yang lebih adaptif dan tingkat masalah perilaku yang lebih rendah (Gee & Cohodes, 2021).
6. Membentuk Pola Komunikasi Anak di Masa Depan

Ilustrasi anak mengembangkan kemampuan komunikasinya dengan orang lain
(Dokumentasi TGR Community, 2026)
Keterlibatan orang tua dalam merespons pertanyaan anak juga berkaitan dengan pengembang kemampuan anak dalam mengelola pikiran. Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua berkorelasi positif dengan self-regulated learning anak, keterampilan sosial, kemampuan memecahkan masalah, dan penurunan perilaku bermasalah. Ini berarti, pola respons yang dibentuk dalam percakapan sehari-hari di rumah akan terbawa ke dalam cara anak berinteraksi di sekolah dan lingkungan sosialnya. Sebaliknya, anak yang terbiasa mendapat respons singkat akan kesulitan mengutarakan pikiran dan perasaannya secara efektif, baik di hadapan orang dewasa maupun teman sebayanya (Gee & Cohodes, 2021).
Nah, Sobat TGR, ternyata banyak sekali ya, dampak positif dari merespons pertanyaan si kecil dengan baik! Semakin banyak si kecil bertanya maka semakin besar kesempatan Sobat TGR untuk memberikan dukungan terbaik dalam tumbuh kembang mereka, lho! Adakah pengalaman pribadi dari Sobat TGR terkait dampak positif merespons pertanyaan si kecil dengan baik? Yuk, kita share di kolom komentar! Dan ingat, Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar!
Writer: Assyifa Salsabila
Editor: Naufal Haidar Rauf
Graphic Designer: Diana
DAFTAR PUSTAKA
Boullion A, Linde-Krieger LB, Doan SN and Yates TM. (2023). Parental warmth, adolescent emotion regulation, and adolescents’ mental health during the COVID-19 pandemic. Front. Psychol. 14:1216502. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1216502
Chaplin, T. M., Mauro, K. L., & Niehaus, C. E. (2022). Effects of Parenting Environment on Child and Adolescent Social-Emotional Brain Function. Current topics in behavioral neurosciences, 54, 341–372. https://doi.org/10.1007/7854_2021_276
Gee, D. G., & Cohodes, E. M. (2021). Influences of caregiving on development: A sensitive period for biological embedding of predictability and safety cues. Current Directions in Psychological Science, 30(5), 376–383. https://doi.org/10.1177/09637214211015673
Huang, Y., Pan, J., & Zhang, R. (2022). Parents’ response to children’s performance and children’s self-esteem: Parent–child relationship and friendship quality as mediators. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(10), 6012. https://doi.org/10.3390/ijerph19106012
Iwasaki, S., Moriguchi, Y., & Sekiyama, K. (2023). Parental responsiveness and children’s trait epistemic curiosity. Frontiers in Psychology, 13, 1075489. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.1075489
Stuckelman, Z. D., Strouse, G. A., & Troseth, G. L. (2022). Value added: Digital modeling of dialogic questioning promotes positive parenting during shared reading. Journal of Family Psychology, 36(6), 1010–1020. https://doi.org/10.1037/fam0000932
Tgr Parenting Tgr Campaign Tips ParentingMitra Kolaborasi:
Copyright © 2017 - 2026 Traditional Games Returns All rights reserved.