Dari Lapangan Hijau untuk Anak: Upaya Sepak Bola Memenuhi Hak Anak
Halo, Sobat TGR! Anak-anak memiliki waktu untuk bermain, bersenang-senang, dan belajar sambil mengamati lingkungan sekitarnya. Nantinya di masa mendatang, anak-anak bertumbuh menjadi orang dewasa yang mempunyai peran penting dalam membangun bangsa dan negara. Oleh karena itu, sedari awal hak-hak anak perlu dipenuhi.
Berdasarkan Konvensi PBB tentang Hak-hak Anak, setiap anak berhak atas: bersantai dan bermain (pasal 31), kebebasan berekspresi (pasal 13), terlindung dari kekerasan (pasal 19), mendapatkan pendidikan (pasal 28), perlindungan identitas (pasal 8), standar hidup yang layak (pasal 27), mengetahui hak-hak mereka (pasal 42), serta kesehatan dan layanan kesehatan (pasal 24). Mengetahui betapa pentingnya pertumbuhan dan perkembangan anak, berbagai hal diupayakan agar hak-hak anak dapat terpenuhi dengan baik. Salah satunya adalah melalui sepak bola.
Sepak bola telah menjadi olahraga yang banyak digandrungi oleh banyak orang, termasuk anak-anak. Menurut data statistik World Atlas, sepak bola menjadi olahraga terpopuler di dunia dengan penggemar sebanyak 3,5 miliar orang per 2025. Selain itu, FIFA menyatakan bahwa sekitar 5 miliar orang menonton Piala Dunia 2022 Qatar, yang mana 1,5 miliar penonton menyaksikan pertandingan babak final di ajang tersebut.
Maka dari itu, tak jarang Sobat TGR menemukan keseruan anak-anak bermain sepak bola di setiap sudut tempat. Melihat minat anak-anak yang begitu besar pada sepak bola, seluruh pihak dalam sepak bola berupaya agar hak-hak anak dapat terpenuhi dengan baik. Maka dari itu, berikut ini upaya sepak bola dalam memenuhi hak-hak anak.
Walaupun dekat dengan sepak bola, pendidikan tetaplah penting dan utama bagi anak-anak untuk masa depannya yang lebih baik. Maka dari itu, beberapa klub sepak bola mempunyai program pendidikan tersendiri. Manchester United melalui yayasannya, yaitu Manchester United Foundation, mendidik anak-anaknya dengan mengajarkan berbagai pelajaran, seperti matematika, bahasa Inggris, pendidikan jasmani, pribadi, sosial, kesehatan, dan ekonomi. Anak-anak dapat belajar sambil merasakan atmosfer sepak bola.

Foto Bersama Kiper Manchester United Senne Lammens dan Anak-anak
(Manchester United Foundation, 2026)
Selain itu, terdapat pelajaran tambahan, seperti sesi edukasi menolak rasisme (no room for racism) agar anak-anak dapat mencegah dan memberantas rasisme di lingkungannya. Kehadiran program pendidikan tersebut setidaknya menunjukkan kepedulian sepak bola pada hak anak dalam memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas.
Sobat TGR tentunya ga asing dengan momen saat para pemain berjalan sambil menggandeng anak-anak menuju lapangan sebelum pertandingan dimulai. Anak-anak tersebut dinamakan player escort (pengawal pemain) atau mascot children (anak maskot). Tradisi anak-anak yang mengawal pemain awalnya dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran beramal.

Potret Para Pengawal Pemain bersama Tim Utama Manchester City
(Manchester City)
Menjelang Piala Dunia 2002, FIFA menggandeng UNICEF untuk mempromosikan sekaligus melindungi hak semua anak dalam berekreasi secara sehat dan memperoleh pendidikan berkualitas melalui kampanye “Say Yes For Children”. Penerapan kampanye saat itu adalah anak-anak diberikan peran untuk mengawal para pemain dalam setiap pertandingan Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang. Selain itu, anak-anak juga mengenakan kaus FIFA/UNICEF yang bertuliskan “Say Yes For Children” untuk menguatkan pesan dalam kampanye tersebut.

Potret Para Pengawal Pemain (Berpakaian Kuning) pada Piala Dunia 2002
(FIFA, 2002)
Seiring berjalannya waktu, tradisi pengawal pemain ini mulai diterapkan dalam banyak pertandingan sampai sekarang di berbagai kompetisi sepak bola dunia, termasuk Indonesia. Bagi anak-anak yang menjadi pengawal pemain, pengalaman ini menjadi momen yang berharga untuk diingat dan dikenang. Pada akhirnya, tradisi ini bukan hanya rutinitas semata, melainkan juga sarana edukasi sekaligus rekreasi sehingga anak-anak dapat merasakan atmosfer sepak bola dalam stadion secara aman dan menghibur.

Potret Para Pengawal Pemain Bersama Tim PSIM Yogyakarta
(PSIM Yogyakarta, 2024)
Pada 18 April 2025 di Old Trafford, Manchester United (disingkat MU) meraih kemenangan secara dramatis melawan Lyon dengan skor tipis 5-4 di babak perempat final UEFA Europa League musim 2024/2025. Selesai pertandingan, seorang fans cilik MU menjadi bahan perbincangan penikmat sepak bola. Pasalnya, anak tersebut begitu emosional saat menyaksikan pertandingan klub kesayangannya. Suporter belia itu terlihat menangis saat MU tertinggal dan bahagia setelah timnya berhasil membalikkan keadaan di menit-menit akhir pertandingan.

Potret Fans Cilik Manchester United saat Menangis dan Bahagia
(DAZN, 2025)
Ekspresinya tersebut tentunya mewakili seluruh fans Manchester United yang menyaksikan pertandingan tersebut. Kisah fans cilik MU ini menunjukkan bahwa anak-anak bebas berekspresi di dalam stadion. Bahkan, klub yang didukungnya, yaitu Manchester United, memberikan hadiah istimewa berupa jersey bertanda tangan para pemainnya yang diberikan langsung oleh salah satu legenda hidup MU Paul Scholes.

Potret Fans Cilik (Tengah) bersama Paul Scholes (Paling Kiri)
(TNT Sports Football, 2025)
Selain itu, MU juga mengundangnya ke Old Trafford untuk menyaksikan pertandingan Manchester United melawan Athletic Bilbao pada babak semifinal UEFA Europa League musim 2024/2025. Hadiah istimewa tersebut merupakan bentuk dukungan atau apresiasi klub kepada sang anak yang setia mendukung timnya. King MU emang keren, deh!
Sebagai induk organisasi sepak bola dunia, FIFA juga berperan dalam menciptakan lingkungan sepak bola yang aman bagi anak-anak. Peran tersebut ditunjukkan melalui pembuatan Regulasi dan Transfer Pemain, khususnya transfer pemain di bawah umur 18 tahun. Aturan tersebut tertulis dalam pasal 19 Regulasi Status dan Transfer Pemain FIFA yang berbunyi, “Transfer pemain internasional hanya diizinkan jika pemain sudah berusia lebih dari 18 tahun.”
Seperti yang Sobat ketahui, anak di bawah 18 tahun masih dalam proses bertumbuh dan belum sepenuhnya matang secara fisik, emosional, sosial, maupun hukum. Oleh sebab itu, FIFA secara tegas melarang transfer pemain internasional yang berusia di bawah 18 tahun dengan tujuan melindungi anak di bawah umur dari eksploitasi dan menjamin hak mereka atas pendidikan. Apabila terbukti melanggar aturan tersebut, klub sepak bola terkait dapat menerima sanksi berat dari Komite Disiplin FIFA berupa larangan transfer pemain pada periode tertentu dan denda finansial. Dengan begitu, FIFA dapat menciptakan lingkungan sepak bola yang aman bagi anak-anak.
Banyak tantangan yang datang saat mengupayakan pemenuhan hak anak. Maka dari itu, agar upaya-upaya tersebut dapat terlaksana dan membuahkan hasil yang baik, seluruh pihak, baik keluarga, masyarakat, pemerintah, dan juga pihak-pihak yang berkecimpung di dunia sepak bola, perlu saling berkolaborasi dan bersinergi sehingga hak-hak semua anak dapat terpenuhi dengan baik. Dengan demikian, sepak bola bukan hanya sebagai olahraga saja, melainkan juga sebagai media positif bagi anak-anak untuk bertumbuh dan berkembang dengan ceria. Oleh sebab itu, “Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar!”.
Writer : Henrique Carlos Guterres
Editor : Samuel Wangsa
Graphic Designer : Diana Elysia
QC/Publisher : Samuel Wangsa
Referensi:
Admin. (19 Januari 2024). Kisah Isa, Dua Kali Jadi player escort di Laga Psim Jogja. PSIM Jogja. https://psimjogja.id/kisah-isa-dua-kali-jadi-player-escort-di-laga-psim-jogja/
Diandra, Z. (30 Juni 2025). Sepak bola Masih Jadi olahraga terpopuler di Dunia 2025. GoodStats Data. https://data.goodstats.id/statistic/sepak-bola-masih-jadi-olahraga-terpopuler-di-dunia-2025-XIjnx
Dilaga, O. H. (2 April 2014). Regulasi FIFA tentang Status dan Transfer Pemain. KOMPAS.com. https://bola.kompas.com/read/2014/04/02/1900348/Regulasi.FIFA.tentang.Status.dan.Transfer.Pemain
Foundation, M. U. (n.d.). Manchester United Foundation. Primary Reds. https://www.mufoundation.org/en/Projects/Primary-Reds
Media, K. C. (20 Juni 2023). Mengapa Pemain sepak bola gandeng anak-anak sebelum pertandingan?. KOMPAS.com. https://www.kompas.com/tren/read/2023/06/20/133000165/mengapa-pemain-sepak-bola-gandeng-anak-anak-sebelum-pertandingan-
Richter, F. (27 Mei 2025). Infographic: The Global Game of Football. Statista Daily Data. https://www.statista.com/chart/14329/global-interest-in-football/
Tempo.co, & Febriati, V. A. (23 Juni 2023). Kenapa Pemain Sepak Bola gandeng anak Saat Masuk Ke Stadion? Ini Penjelasannya. Tempo. https://www.tempo.co/sepakbola/kenapa-pemain-sepak-bola-gandeng-anak-saat-masuk-ke-stadion-ini-penjelasannya-173901
UEFA.com. (11 Juni 2002). Saying yes for children. https://www.uefa.com/news-media/news/0186-0f844ba50d94-a18e858410aa-1000--saying-yes-for-children/
Voa. (28 Oktober 2009). FIFA, UNICEF announce partnership - 2001-12-08. Voice of America. https://www.voanews.com/a/a-13-a-2001-12-08-13-fifa-66939577/377477.html
What is the UN Convention on Child Rights?. UNICEF UK. (13 Agustus 2025). https://www.unicef.org.uk/what-we-do/un-convention-child-rights/
Mitra Kolaborasi:
Copyright © 2017 - 2026 Traditional Games Returns All rights reserved.