Halo, Sobat TGR! Bermain merupakan salah satu cara terbaik bagi anak-anak untuk belajar, berinteraksi, dan mengembangkan kreativitas mereka. Apalagi jika permainan yang dimainkan merupakan permainan tradisional yang sarat akan nilai kebersamaan, kerja sama, dan budaya lokal.
Pada Sabtu 23 Mei 2026, TGR berkesempatan hadir di Sekolah Murid Merdeka (SMM) Rawamangun, Jakarta Timur, untuk mengajak anak-anak merasakan kembali keseruan bermain permainan tradisional. Kegiatan ini diikuti oleh 12 anak yang didampingi oleh orang tua mereka masing-masing dan dipandu oleh lima orang tim TGR. Wah, seperti apa ya keseruan kegiatan hari itu? Yuk, simak ceritanya!
Kegiatan dimulai pada pukul 10.00 WIB. Anak-anak terlihat duduk rapi bersama orang tua mereka dengan ekspresi yang menggemaskan. Sebagian tampak penasaran dengan berbagai alat permainan yang telah disiapkan, sementara yang lain masih malu-malu sambil mengamati suasana sekitar. Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Kak Haura selaku Educare di SMM Rawamangun yang menyampaikan tujuan kegiatan sekaligus mengajak anak-anak untuk berani bermain dan berinteraksi dengan teman-teman baru.
Potret Sesi Pembukaan Acara
(Dokumentasi Tim TGR, 2026)
Setelah sesi pembukaan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi ice breaking yang dipandu oleh Kak Farrell dan Kak Gisel. Anak-anak diajak membentuk lingkaran besar sambil bergandengan tangan satu sama lain. Dengan didampingi tim TGR, mereka kemudian bergerak berputar layaknya kereta api sambil menyanyikan lagu-lagu tradisional yang ceria. Tawa dan senyum mulai terlihat ketika anak-anak diminta memegang bahu teman di depannya dan membentuk barisan panjang yang bergerak mengelilingi ruangan.
Cingciripit dan Asah Konsentrasi
Di sela-sela bernyanyi, Kak Farrell sesekali menyebutkan sebuah angka. Mendengar instruksi tersebut, anak-anak harus segera membentuk kelompok sesuai jumlah yang disebutkan. Suasana menjadi semakin ramai karena mereka berusaha mencari teman sebanyak mungkin agar jumlah kelompoknya sesuai. Beberapa anak terlihat tertawa saat salah menghitung jumlah anggota kelompok, sementara yang lain dengan sigap mengajak temannya bergabung.
Keseruan berlanjut ketika anak-anak diajak duduk membentuk lingkaran kecil untuk memainkan permainan tradisional Cingciripit. Dalam permainan ini, seluruh peserta meletakkan telapak tangan mereka secara bertumpuk. Satu orang pemain kemudian menggerakkan jarinya di antara tumpukan tangan sambil menyanyikan lagu "Cingciripit Tulang Bajing Kejepit". Ketika lagu berakhir, pemain yang jarinya tertangkap oleh tangan peserta lain harus menerima tantangan ringan atau menjadi pemain berikutnya. Anak-anak terlihat sangat antusias mengikuti permainan ini. Beberapa tertawa terbahak-bahak ketika berhasil menjebak temannya, sementara yang lain menutup wajah mereka karena malu saat terkena giliran.
Tidak berhenti sampai di situ, sesi ice breaking dilanjutkan dengan permainan konsentrasi yang tak kalah seru. Anak-anak kembali membentuk satu lingkaran besar sambil bergandengan tangan. Jika Kak Farrell menyebutkan kata "apel", seluruh peserta harus melangkah satu langkah ke depan secara bersamaan. Sebaliknya, ketika kata "jeruk" disebutkan, mereka harus mundur satu langkah ke belakang. Permainan sederhana ini ternyata berhasil mengundang banyak gelak tawa karena beberapa anak sering kali salah langkah akibat terlalu bersemangat mengikuti instruksi.
Keseruan Sesi Ice Breaking
(Dokumentasi Tim TGR, 2026)
Menjelang akhir sesi ice breaking, anak-anak diminta berhitung dari angka satu hingga tiga secara berurutan. Nomor yang sama kemudian berkumpul menjadi satu kelompok sehingga terbentuk tiga kelompok bermain yang masing-masing beranggotakan empat anak. Pembagian kelompok ini menjadi tanda dimulainya sesi yang paling ditunggu-tunggu, yaitu bermain permainan tradisional.
Dengan terbentuknya tiga kelompok, tersedia pula tiga pos permainan tradisional yang dapat dimainkan secara bergantian oleh setiap kelompok. Antusiasme anak-anak langsung terlihat saat mereka mendengar penjelasan mengenai permainan yang akan dimainkan. Senyum lebar dan sorak semangat terdengar dari berbagai sudut ruangan.
Pos 1: Gasing Bambu
Pada pos pertama, anak-anak bermain gasing bambu. Sebelum dimainkan, gasing terlebih dahulu dililit menggunakan tali khusus. Setelah siap, tali ditarik dan dilepaskan dengan gerakan tertentu sehingga gasing dapat berputar di atas alas permainan. Anak-anak terlihat sangat antusias saat melihat gasing mereka berhasil berputar dengan stabil. Tak jarang terdengar sorakan kegembiraan ketika gasing mereka mampu bertahan lebih lama dibandingkan milik teman lainnya.
Keseruan Permainan Ular Tangga Raksasa
(Dokumentasi Tim TGR, 2026)
Pos 2: Dampu Bulan
Pos kedua menghadirkan permainan Dampu Bulan yang tidak kalah menarik. Permainan ini dimainkan dengan melompati kotak-kotak yang telah digambar di lantai menggunakan satu kaki maupun dua kaki sesuai aturan permainan. Anak-anak harus menjaga keseimbangan tubuh sambil bergerak dari satu kotak ke kotak berikutnya hingga mencapai garis akhir. Beberapa anak tampak sangat percaya diri saat melompat, sementara yang lain tetap berusaha menyelesaikan tantangan dengan penuh semangat meskipun sesekali kehilangan keseimbangan.

Keseruan Permainan Dampu Bulan
(Dokumentasi Tim TGR, 2026)
Pos 3: Ular Tangga Raksasa
Sementara itu, pada pos ketiga terdapat permainan ular tangga raksasa yang menjadi salah satu favorit peserta. Berbeda dari ular tangga biasa, permainan ini menggunakan papan berukuran besar sehingga anak-anak dapat menjadi pion yang berjalan langsung di atas kotak permainan. Setiap kotak berisi gambar maupun pengetahuan umum yang menarik untuk dipelajari bersama. Anak-anak terlihat sangat bersemangat saat melempar bantal dadu dan menunggu angka yang muncul. Mereka juga tampak antusias membaca informasi yang terdapat pada setiap kotak sambil berlomba mencapai garis akhir.

Keseruan Permainan Gasing
(Dokumentasi Tim TGR, 2026)
Setelah seluruh kelompok menyelesaikan rangkaian permainan tradisional, anak-anak kembali diajak berkumpul dalam satu lingkaran besar. Namun ternyata keseruan belum berakhir. Kak Farrell dan tim TGR kembali mengajak mereka bermain permainan tradisional ular naga.
Dalam permainan ini, dua anggota tim TGR berperan sebagai "gerbang naga" dengan saling berpegangan tangan dan mengangkat tangan mereka membentuk terowongan. Sementara itu, anak-anak membentuk barisan panjang dengan memegang pundak teman di depannya. Sambil menyanyikan lagu ular naga, mereka berjalan berkeliling dan keluar masuk melewati gerbang yang telah dibuat. Ketika lagu berakhir, gerbang naga akan menurunkan tangan mereka untuk menangkap salah satu anak yang berada di bawah terowongan. Suasana langsung dipenuhi tawa dan sorak sorai setiap kali ada anak yang tertangkap. Meskipun sederhana, permainan ini berhasil membuat seluruh peserta larut dalam kegembiraan bersama.

Potret Keseruan Bermain Ular Naga
(Dokumentasi Tim TGR, 2026)
Setelah puas bermain, anak-anak kembali duduk membentuk lingkaran besar untuk mengikuti sesi berikutnya, yaitu melukis gasing bambu tradisional. Pada sesi ini, orang tua turut mendampingi dan membantu anak-anak menuangkan kreativitas mereka.
Setiap anak mendapatkan satu buah gasing bambu, cat akrilik, dan kuas untuk digunakan sebagai media berkarya. Sebelum mulai melukis, bagian tali dan komponen lainnya dilepas terlebih dahulu sehingga anak-anak dapat lebih leluasa menghias badan gasing sesuai imajinasi mereka.
Suasana sesi melukis terasa begitu hangat dan penuh kreativitas. Ada anak yang mencoba mencampurkan berbagai warna dasar untuk menciptakan warna baru yang unik. Ada pula yang menggambar karakter favorit mereka dengan penuh ketelitian. Beberapa anak memilih melukis pemandangan alam, sementara yang lain bebas menciptakan pola dan gambar unik hasil imajinasi mereka sendiri. Dengan didampingi orang tua, setiap anak tampak bangga menunjukkan hasil karya yang perlahan mulai menghiasi permukaan gasing mereka.

Potret Keseruan Melukis Gasing
(Dokumentasi Tim TGR, 2026)
Setelah sesi melukis selesai, seluruh gasing yang telah dihias dikumpulkan terlebih dahulu untuk menunggu cat mengering. Sambil menunggu, anak-anak dibantu oleh tim TGR dan orang tua untuk membersihkan tangan serta bagian tubuh yang terkena noda cat. Meskipun tangan mereka dipenuhi warna-warni cat, senyum bahagia tetap terlihat di wajah masing-masing anak.
Tak terasa, rangkaian kegiatan hari itu telah sampai di penghujung acara. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama yang diikuti oleh seluruh anak, orang tua, serta tim TGR. Senyum ceria tampak menghiasi wajah semua peserta yang telah menghabiskan waktu bersama dalam suasana penuh kebahagiaan dan kebersamaan.
Sesi Foto Bersama

Sesi Foto Bersama
(Dokumentasi Tim TGR, 2026)
Setelah sesi foto selesai, anak-anak dipersilakan mengambil hasil karya mereka masing-masing. Dengan penuh rasa bangga, mereka membawa pulang gasing bambu yang telah dihias menggunakan kreativitas dan imajinasi mereka sendiri. Bukan hanya sebuah mainan, tetapi juga kenang-kenangan yang menyimpan pengalaman bermain yang menyenangkan bersama teman-teman baru.
Wah, ternyata kegiatan hari ini benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam bagi anak-anak maupun orang tua di SMM Rawamangun. Selain bermain dan belajar bersama, mereka juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal kembali berbagai permainan tradisional yang sarat akan nilai kebersamaan dan kreativitas.
Mereka pun turut membagikan pesan dan kesan mengenai kegiatan hari ini saat diwawancarai oleh tim TGR. Kira-kira bagaimana ya pendapat para orang tua yang telah mendampingi anak-anak selama kegiatan berlangsung? Yuk, simak pendapat mereka pada bagian berikutnya!
Kesan dan Pesan Selama Kegiatan

Potret Sesi Wawancara
(Dokumentasi Tim TGR, 2026)
Salah satu kesan datang dari Bunda Aulia yang mendampingi putrinya selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, momen yang paling berkesan adalah ketika Aulia dapat mencoba berbagai permainan tradisional yang sebelumnya belum pernah ia mainkan, khususnya permainan gasing bambu.
“Kalau untuk momen menarik yang dilakukan hari ini, saya lihat Aulia happy main permainan yang bisa dibilang itu permainan zaman orang tuanya ya, permainan tradisional begitu. Aulia sebelumnya jujur belum pernah main gasing ya. Kalau untuk ular tangga sama engklek, itu pernah main di luar rumah. Tapi untuk gasing ini pertama kali dari kegiatan hari ini saja baru diperkenalkan ke Aulia. Kemudian menambah pengalaman dia untuk melukis pada gasing tadi,” ujar Bunda Aulia.
Tak hanya membagikan momen yang paling berkesan, Bunda Aulia juga menyampaikan pesan yang ia dapatkan dari kegiatan hari ini. Menurutnya, permainan tradisional dapat menjadi alternatif kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan gawai.
“Pesannya untuk anak-anak, semoga bisa mengenali permainan-permainan tradisional. Kemudian mungkin bisa dilakukan di rumah nanti bersama orang tuanya biar enggak kenal gadget ya. Jadi kayak yang saya baca tagline-nya di belakang rompi, ‘Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar’. Jadi pesannya itu sih,” tambahnya.
Kesan berikutnya datang dari Kak Haura selaku Educare SMM Rawamangun yang sejak awal telah membuka jalannya kegiatan hari itu. Ia menyampaikan apresiasinya terhadap hadirnya kegiatan permainan tradisional yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk bermain, bereksplorasi, dan belajar bersama teman-teman sebaya.
“Kalau buat anak-anak, aku pengen mereka lebih banyak bermain karena ternyata tanpa kita sadari, anak-anak pun ruang untuk bermainnya sudah sangat sedikit ya. Terus sudah mulai terpapar hal-hal yang mungkin sebenarnya di usia mereka tuh belum saatnya. Jadi aku harap anak-anak bisa lebih banyak bermain, lebih banyak eksplorasi.” ungkap Kak Haura.
“Dan untuk TGR, tolong untuk tetap keep up yaa. Karena jujur kehadiran kalian itu juga sangat membantu dan bikin kita happy. Apalagi sebagai sekolah, juga perlu banget ruang untuk anak-anak diperkenalkan permainan tradisional. Jadi tolong tetap ada, dan enggak sabar untuk kolaborasi berikut-berikutnya lagi dengan TGR,” tambahnya.
Dukungan dan apresiasi yang disampaikan Kak Haura menjadi semangat tersendiri bagi TGR untuk terus menghadirkan ruang bermain yang aman, menyenangkan, dan bermakna bagi anak-anak. Harapannya, kolaborasi seperti ini dapat terus terjalin sehingga semakin banyak anak yang dapat mengenal serta menikmati keseruan permainan tradisional bersama teman-temannya.
Wah, seru sekali ya, Sobat TGR! Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya mendapatkan pengalaman bermain yang menyenangkan, tetapi juga kesempatan untuk mengenal kembali berbagai permainan tradisional yang mulai jarang ditemui. Harapannya, kegiatan seperti ini dapat terus menjadi ruang bagi anak-anak untuk bermain, bereksplorasi, dan membangun kenangan indah bersama teman maupun keluarga. Sampai jumpa di kegiatan seru TGR berikutnya, Sobat TGR! Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar! (SYL/e.d)
Writer: Sylvi Laila Anwar
Editor: Eva
Graphic Designer: Indiana
Smm Rawamangun Tgr Event Permainan Tradisional Cingciripit