Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Permainan Tradisional Indonesia Hasil Warisan Kebudayaan Belanda

Minggu, 23 Agustus 2026 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 8 Kali

Halo Sobat TGR! Dari banyaknya permainan tradisional di Indonesia, ternyata ada beberapa permainan tradisional yang asal-muasalnya berasal dari warisan saat penjajahan Belanda di Indonesia loh! Kira-kira permainan apa aja ya? Yuk simak tulisan di bawah ini.

Seperti yang kita ketahui, Indonesia pernah dijajah oleh Belanda selama kurang lebih 350 tahun. Oleh karena itu, tentu banyak sekali peninggalan Belanda di Indonesia sebelum era kemerdekaan. Salah satu contoh peninggalan tersebut adalah permainan tradisional. Seiring berjalannya waktu, beberapa permainan ini melebur ke dalam kebudayaan Indonesia. Berikut daftar lengkapnya:

 

  1. Bola Bekel

Bola bekel (Behance, 2021)

 

Siapa sangka bahwa bola bekel termasuk ke dalam permainan tradisional yang asal mulanya lahir  dari warisan kebudayaan Belanda. Kata “Bekel” berasal dari bahasa Belanda, yaitu “Bikkelen” yang artinya membanting tulang (Orami, 2024). Arti tersebut mengacu pada tata cara permainannya yang menggunakan metode membanting atau memantulkan bola.

Permainan ini merupakan permainan yang menggunakan bola karet dan biji bekel/cangkang kerang sebagai alat permainannya. Biasanya dimainkan oleh dua orang, kadang bisa lebih. Cara memainkannya pun cukup mudah, hanya dengan memantulkan bola karet ke lantai, lalu pemain diminta untuk mengambil biji satu per satu.

Kerang yang biasanya digunakan dalam permainan bola bekel (instagram : coco.vani, 2022)

 

Hal menarik yang ada di permainan ini terletak pada penggunaan cangkang kerang sebagai alat permainannya. Biasanya terdapat berbagai jenis cangkang kerang yang dijual di pasaran. Beberapa orang di antaranya bahkan sering mengoleksi beberapa jenis kerang supaya bisa berganti-ganti setiap kali bermain.

 

  1. Balap Karung

Balap karung (pngtree, t.t.)

 

Permainan yang biasanya hadir saat perayaan kemerdekaan Indonesia ini ternyata merupakan salah satu warisan kebudayaan dari Belanda. Dahulu, permainan ini merupakan permainan yang diadakan untuk memperingati hari kemerdekaan Belanda. Akan tetapi, permainan ini cukup terkenal di kalangan masyarakat Indonesia pada saat itu (Indosport, 2018).

Cara memainkan permainan ini cukup mudah, hanya dengan berlompat sambil menggunakan karung, kemudian terus melaju hingga ke garis akhir. Pemain yang sampai lebih awal akan menjadi pemenangnya.

  1. Kelereng

Permainan kelereng (flickr, t.t)

 

Kelereng atau bisa disebut juga gundu merupakan salah satu permainan tradisional yang cukup populer di kalangan masyarakat hingga saat ini. Permainan kelereng berasal dari bahasa Belanda, yaitu “knikkers” yang artinya bola kecil. Permainan ini dibawa oleh Belanda ke Indonesia pada abad ke-17 hingga abad ke-19 (Cultourian, 2021).

Biasanya, kelereng dimainkan oleh anak-anak. Lalu cara memainkannya pun cukup unik karena para pemain nantinya akan menyentil kelereng dengan jari agar kelerengnya bisa bergerak masuk  ke dalam sebuah arena. Dalam hal ini, kemampuan dalam mencari strategi perlu dipikirkan secara matang.

Nah, Sobat TGR! Sekarang kalian jadi tahu kan kalau sebenarnya beberapa permainan tradisional Indonesia merupakan hasil warisan dari kebudayaan lain. Ternyata permainan yang cukup familiar di telinga kita merupakan hasil pencampuran budaya pada saat itu. Oleh karena itu, ayo kita terus memainkannya dan melestarikan permainan yang sudah ada agar tidak punah. Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar! 

DAFTAR PUSTAKA

Orami, 2024. Permainan Bola Bekel: Sejarah, Cara Main, dan Manfaatnya. Dari https://www.orami.co.id/magazine/permainan-bola-bekel

Indosport, 2018. Balap Karung: Warisan Penjajah Belanda, 'Simbol' Ekonomi dan Semarak Kemerdekaan. Dari https://www.indosport.com/multi-event/20180816/balap-karung-warisan-belanda-dan-semarak-kemerdekaan/

Cultourian, 2021. Kenali Permainan Kelereng. Dari https://cultourian.wixsite.com/cultourian/post/kenali-permainan-kelereng

Writer: Niken Dara Fesya

Editor: Novi

Graphic Design: Dinda

Komentari Tulisan