Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Merayakan HUT DKI Jakarta ke-499 di Panti Asuhan Anni'mah

Rabu, 30 September 2026 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 15 Kali

Halo, Sobat TGR! Bermain permainan tradisional tidak hanya menjadi aktivitas yang menyenangkan, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk mengenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi muda. Melalui permainan, anak-anak dapat belajar bekerja sama, berkomunikasi, melatih ketangkasan, sekaligus menciptakan momen kebersamaan yang penuh tawa.

Pada Sabtu, 13 Juni 2026, TGR kembali hadir untuk mengajak anak-anak bermain permainan tradisional. Kali ini, kegiatan berlangsung bersama anak-anak Panti Asuhan Anni’mah, Jakarta Timur, dengan berkolaborasi bersama teman-teman Voluntrip. Tidak hanya bermain, kegiatan kali ini juga mengangkat budaya Jakarta dan Betawi sebagai tema utama dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-499 Kota Jakarta.

Kegiatan diikuti oleh adik-adik Panti Asuhan Anni’mah bersama relawan Voluntrip dan dipandu oleh tim TGR. Berbagai permainan tradisional telah disiapkan dalam beberapa pos permainan yang pastinya membuat suasana semakin seru. Namun, sebelum masuk ke permainan utama, kegiatan diawali dengan sesi ice breaking untuk mencairkan suasana dan membuat peserta semakin akrab.

Sesi ice breaking dipimpin oleh Kak Nina. Semua peserta diminta membentuk satu lingkaran besar dengan posisi yang saling bersilangan. Setelah membentuk lingkaran, mereka kemudian saling berkenalan satu sama lain. Momen perkenalan ini menjadi kesempatan bagi adik-adik dan kakak-kakak Voluntrip untuk mengenal nama serta membangun keakraban sebelum bermain bersama.

Potret Sesi Perkenalan

(Dokumentasi Tim TGR 2026)

Setelah semua saling mengenal, keseruan dilanjutkan dengan permainan suit ular. Dalam permainan ini, dua orang pemain akan saling berhadapan dan melakukan suit. Pemain yang kalah kemudian berdiri di belakang pemain yang menang dan mengikuti gerakannya seperti membentuk satu barisan. Pemain yang berada di bagian depan kemudian mencari lawan baru untuk kembali melakukan suit. Pemain yang kalah akan bergabung ke barisan pemain yang menang, sehingga barisan perlahan menjadi semakin panjang. Permainan terus berlangsung hingga akhirnya tersisa satu barisan sebagai pemenang.

Suasana pun semakin ramai peserta mulai saling beradu suit. Ada yang berusaha mempertahankan posisinya, ada pula yang harus bergabung dengan barisan lawan setelah kalah. Tawa dan sorakan terdengar ketika barisan semakin panjang dan masing-masing kelompok berusaha menjadi yang terakhir bertahan.

Setelah permainan suit ular selesai, seluruh peserta kembali membentuk satu lingkaran besar. Mereka kemudian berjalan memutar sambil menyanyikan berbagai lagu daerah bersama-sama. Suasana yang sebelumnya masih terasa canggung pun perlahan berubah menjadi semakin hangat. Semua peserta mulai bernyanyi bersama sambil menikmati suasana di pagi itu.

Potret Sesi Ice Breaking

(Dokumentasi Tim TGR 2026)

Semangat yang mulai bangkit dari sesi ice breaking kemudian dilanjutkan dengan senam Ondel-Ondel. Seluruh peserta diminta membentuk empat banjar secara berurutan. Kak Faudya dan Kak Salia dari tim TGR kemudian memandu gerakan senam di depan. Gerakan senam dilakukan mengikuti irama lagu Ondel-Ondel dengan rangkaian gerakan sederhana dan energik sehingga mudah diikuti bersama-sama.

Sesi senam Ondel-Ondel ini menjadi pembuka bahwa kegiatan hari itu tidak hanya mengajak anak-anak bermain, tetapi juga memperkenalkan budaya khas Jakarta. Melalui gerakan dan lagu Ondel-Ondel, adik-adik diajak untuk mengenal salah satu ikon budaya Betawi dengan cara yang menyenangkan. Kegiatan ini pun menjadi bagian dari semangat menyambut HUT ke-499 DKI Jakarta dengan menghadirkan budaya Jakarta melalui aktivitas yang dekat dengan dunia anak-anak.

Potret Senam Ondel-ondel

(Dokumentasi Tim TGR 2026)

Setelah tubuh semakin bersemangat, tibalah saat yang paling ditunggu-tunggu, yaitu bermain permainan tradisional! Kali ini, permainan dikemas secara pos to pos dengan berbagai aktivitas yang tidak hanya menguji ketangkasan, tetapi juga pengetahuan mengenai budaya Betawi.

Adik-adik dan kakak-kakak Voluntrip kemudian dibagi menjadi enam kelompok secara merata. Setiap kelompok mendapatkan papan skor yang digunakan untuk mencatat perolehan poin selama mengikuti seluruh permainan. Permainan dibagi menjadi dua sesi, dengan masing-masing sesi terdiri dari tiga pos. Setiap permainan dilakukan secara battle antar kelompok dengan waktu bermain selama 10 menit di setiap pos. Setelah waktu permainan selesai, setiap kelompok berpindah menuju pos berikutnya.

 

Sesi Pertama

Pos 1: Damdas 3 Batu

Permainan pertama yang dimainkan adalah damdas 3 batu. Setiap kelompok terlebih dahulu dibariskan sesuai dengan anggota kelompoknya. Permainan dilakukan secara satu lawan satu dengan masing-masing pemain menggunakan tiga buah batu sebagai bidak permainan.

Pada permainan ini, pemain secara bergantian meletakkan dan menggerakkan tiga batu miliknya pada titik-titik yang tersedia di papan permainan. Setiap pemain berusaha menyusun ketiga batunya agar dapat membentuk satu garis lurus sekaligus menghalangi lawan melakukan hal yang sama. Pemain yang berhasil menyusun ketiga batunya dalam satu garis menjadi pemenang. Apabila terdapat adik-adik yang masih terlalu kecil untuk bermain sendiri, mereka dapat didampingi oleh kakak Voluntrip dan tetap dihitung sebagai satu pemain.

Potret Sesi Bermain Damdas 3 Batu

(Dokumentasi Tim TGR 2026)

Poin yang diperoleh setiap kelompok dihitung berdasarkan jumlah anggota yang berhasil memenangkan pertandingan. Keseruan pun terlihat ketika adik-adik mulai serius memperhatikan pergerakan batu miliknya sekaligus mencoba membaca strategi lawan.

 

Pos 2: Speed Cup

Beralih ke pos berikutnya, terdapat permainan Speed Cup yang menguji daya ingat, kecepatan, dan ketelitian peserta. Sebelum permainan dimulai, fasilitator memberikan waktu selama satu menit kepada setiap kelompok untuk menghafalkan warna-warna cup yang telah disesuaikan dengan warna kartu.

Setelah waktu menghafal selesai, fasilitator memberikan contoh cara bermain. Setiap kelompok harus menyusun cup sesuai dengan urutan warna yang terdapat pada kartu yang diberikan. Menariknya, kartu-kartu tersebut tidak hanya menggunakan warna biasa, tetapi juga menampilkan berbagai budaya Jakarta seperti ondel-ondel, kerak telor, dan budaya Betawi lainnya.

Potret Sesi Bermain Speed Cup

(Dokumentasi Tim TGR 2026)

Setiap putaran menjadi semakin menegangkan karena kelompok harus berpacu untuk menjadi yang tercepat menyusun cup dengan urutan yang benar. Poin diberikan kepada kelompok yang berhasil menyelesaikan susunan dengan tepat dan menjadi yang tercepat pada setiap putaran.

 

Pos 3: Puzzle Budaya Betawi

Pos terakhir pada sesi pertama adalah puzzle budaya Betawi. Setiap kelompok diminta duduk melingkar bersama anggota kelompoknya. Potongan puzzle kemudian diberikan secara acak dan satu per satu kepada masing-masing kelompok.

Tantangannya adalah menyusun seluruh potongan puzzle hingga membentuk gambar budaya Betawi yang utuh. Setiap anggota kelompok harus bekerja sama mencari potongan yang sesuai dan menentukan posisi masing-masing bagian. Ketika puzzle telah selesai dan tersusun dengan benar, kelompok harus segera menekan bel sebagai tanda bahwa mereka telah menyelesaikan tantangan.

Potret Sesi Bermain Puzzle Budaya Betawi

(Dokumentasi Tim TGR 2026)

Permainan ini membuat suasana semakin seru karena setiap kelompok berlomba menyusun puzzle secepat mungkin. Ada yang sibuk mencari potongan yang cocok, ada yang mencoba menyatukan bagian gambar, dan ada pula yang terus memberikan semangat kepada teman satu kelompoknya.

Setelah seluruh kelompok menyelesaikan tiga pos pada sesi pertama, permainan pun dijeda sejenak untuk memberikan waktu istirahat agar mengisi kembali energi mereka melalui snack time.

Potret Sesi Snack Time

(Dokumentasi Tim TGR 2026)

 

Sambil menikmati makanan ringan, peserta juga memanfaatkan waktu untuk membicarakan keseruan permainan yang baru saja mereka lakukan. Canda dan tawa terus terdengar ketika mereka saling membahas siapa yang paling cepat, siapa yang berhasil memenangkan pertandingan, hingga strategi yang digunakan di setiap pos.

Energi kembali terisi dan semangat pun kembali muncul. Jika kebahagiaan adik-adik Panti Asuhan Anni’mah hari itu dapat digambarkan dalam satu kalimat, mungkin rasanya seperti tidak ingin permainan cepat berakhir. Setelah beristirahat sejenak, mereka kembali bersiap untuk menghadapi sesi kedua yang tidak kalah seru.

 

Sesi Kedua

Pos 4: Adu Pantun

Pada sesi kedua, permainan dimulai dengan adu pantun. Fasilitator terlebih dahulu memberikan contoh dengan membacakan bagian sampiran pantun, kemudian peserta harus menentukan isi pantun yang sesuai.

Potret Sesi Bermain Adu Pantun

(Dokumentasi Tim TGR 2026)

Setiap kelompok harus bekerja sama menyusun jawaban logis dan sesuai dengan sampiran yang diberikan. Ketika sudah menemukan jawaban, kelompok harus segera menekan bel dan menyampaikan isi pantun mereka. Kelompok yang berhasil menjawab dengan tepat mendapatkan poin. Namun, apabila kelompok yang lebih dahulu menekan bel tidak dapat memberikan jawaban, kesempatan akan diberikan kepada kelompok lainnya.

Permainan ini menjadi semakin menarik karena peserta tidak hanya dituntut untuk berpikir cepat, tetapi juga harus berani menyampaikan jawaban di depan kelompok lainnya.

 

Pos 5: Kuda Bisik dan Balogo

Keseruan berlanjut dengan permainan kuda bisik. Permainan dimulai dengan pemain pertama menghafalkan susunan kalimat yang diberikan oleh fasilitator. Setelah itu, kalimat tersebut harus disampaikan secara berantai kepada pemain berikutnya hingga mencapai pemain terakhir. Setiap pemain hanya diperbolehkan melakukan pengulangan maksimal dua kali.

Namun, tantangan belum selesai sampai di sana. Sebelum dapat menyampaikan jawaban, pemain terakhir harus terlebih dahulu melewati rintangan balogo.

Potret Sesi Bermain Kuda Bisik dan Balogo

(Dokumentasi Tim TGR 2026)

Dalam permainan balogo, pemain menggunakan kepingan logo yang didorong atau dipukul menggunakan alat pemukul (campa) untuk diarahkan menuju sasaran. Pada tantangan kali ini, pemain terakhir harus berhasil menjatuhkan setidaknya satu balok sebelum dapat melanjutkan perjalanan menuju bel dan menyampaikan jawaban yang telah diterima dari teman-temannya.

Bagian ini tentu saja membuat suasana semakin menegangkan. Kalimat yang telah disampaikan dari satu pemain ke pemain lainnya harus tetap diingat dengan baik. Kesalahan kecil dalam mendengar atau menyampaikan pesan dapat membuat jawaban terakhir berubah dan mengundang gelak tawa seluruh kelompok.

 

Pos 6: Congklak

Permainan terakhir pada sesi kedua adalah congklak. Permainan ini dilakukan secara satu lawan satu dengan perwakilan dari masing-masing kelompok. Apabila terdapat adik-adik yang masih terlalu kecil untuk bermain sendiri, mereka dapat didampingi oleh kakak Voluntrip dan tetap dihitung sebagai satu pemain.

Potret Sesi Bermain Congklak

(Dokumentasi Tim TGR 2026)

Dalam permainan congklak, setiap pemain mendapatkan sejumlah biji yang diletakkan di dalam lubang-lubang kecil pada papan congklak. Pemain mengambil seluruh biji dari salah satu lubang di wilayahnya, kemudian membagikannya satu per satu ke lubang berikutnya secara berurutan. Biji terakhir yang jatuh akan menentukan langkah selanjutnya sesuai dengan aturan permainan. Pemain berusaha mengumpulkan biji sebanyak-banyaknya ke dalam lubang rumah miliknya.

Permainan berlangsung dengan penuh konsentrasi. Adik-adik terlihat berusaha menghitung dan menentukan lubang mana yang harus dipilih agar dapat mengumpulkan biji sebanyak mungkin. Setiap kemenangan dari para pemain kemudian dihitung sebagai tambahan poin bagi kelompok masing-masing.

 

Setelah seluruh kelompok menyelesaikan enam pos permainan, tibalah saatnya untuk melihat hasil perolehan poin. Namun, sebelum pembagian hadiah dimulai, Kak Nina kembali mengajak adik-adik mengikuti kuis berhadiah.

Potret Sesi Kuis Bersama

(Dokumentasi Tim TGR 2026)

Pertanyaan yang diberikan berkaitan dengan budaya Betawi dan permainan tradisional yang telah mereka kenal sepanjang kegiatan. Ternyata, adik-adik Panti Asuhan Anni’mah tidak kalah pintar! Berbagai pertanyaan berhasil dijawab dengan penuh percaya diri. Setiap adik yang berhasil menjawab pertanyaan dengan tepat juga mendapatkan hadiah sebagai bentuk apresiasi.

 

Sesi Penutupan

Setelah sesi kuis selesai, tibalah di penghujung kegiatan, yaitu pembagian hadiah bagi setiap kelompok. Hadiah diberikan berdasarkan jumlah poin yang telah dikumpulkan dari seluruh pos permainan. Senyum ceria terlihat di wajah adik-adik maupun kakak-kakak Voluntrip ketika mengetahui hasil permainan mereka. Setiap kelompok mendapatkan hadiah dengan porsi yang telah disesuaikan berdasarkan perolehan poin masing-masing.

Potret Sesi Pembagian Hadiah Kelompok

(Dokumentasi Tim TGR 2026)

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama yang diikuti oleh adik-adik Panti Asuhan Anni’mah, kakak-kakak Voluntrip, dan tim TGR yang telah mendampingi serta menjadi fasilitator selama rangkaian permainan berlangsung. Sebelum kegiatan benar-benar berakhir, kakak-kakak Voluntrip juga memberikan bingkisan makanan kepada adik-adik. Momen pun ditutup dengan saling bersalaman dan mengucapkan salam sebelum akhirnya semua peserta berpamitan.

Potret Sesi Foto Bersama

(Dokumentasi Tim TGR 2026)

Wah, tidak terasa ya, Sobat TGR! Seharian bermain bersama ternyata bukan hanya menghadirkan keseruan, tetapi juga membawa banyak pengalaman baru bagi adik-adik Panti Asuhan Anni’mah. Mulai dari bernyanyi bersama, mengenal budaya Betawi, hingga mencoba berbagai permainan tradisional, semuanya menjadi bagian dari cerita yang menyenangkan pada hari itu.

Kegiatan kali ini juga menjadi salah satu cara sederhana untuk memperkenalkan budaya Jakarta kepada generasi muda dalam rangka menyambut HUT ke-499 DKI Jakarta. Melalui permainan yang dikemas secara menyenangkan, budaya Betawi tidak hanya diperkenalkan melalui cerita, tetapi juga dirasakan secara langsung melalui pengalaman bermain bersama.

Kesan Pesan Selama Kegiatan

Tentu saja, keseruan hari itu tidak lengkap tanpa mendengar langsung cerita dari adik-adik yang telah ikut bermain. Setelah merasakan keseruan dari awal hingga akhir kegiatan, mereka pun turut memberikan kesan dan pesan mengenai pengalaman bermain permainan tradisional bersama TGR dan kakak-kakak Voluntrip.

Kira-kira, bagaimana ya perasaan adik-adik Panti Asuhan Anni’mah setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hari itu? Permainan apa yang paling mereka sukai? Dan apa pesan yang ingin mereka sampaikan setelah bermain bersama? Yuk, simak keseruan dan cerita mereka!

Potret Sesi Wawancara

(Dokumentasi Tim TGR 2026)

Kesan dan pesan pertama datang dari Akila dan Aisya yang turut merasakan keseruan bermain permainan tradisional bersama kakak-kakak Voluntrip. Menurut Akila, hal yang paling menarik dari kegiatan hari itu adalah dapat bermain dan berinteraksi bersama kakak-kakak Voluntrip yang menurutnya sangat baik dan menyenangkan. Kehadiran mereka membuat Akila dapat menikmati setiap rangkaian kegiatan dengan penuh keceriaan.

“Hari ini seru karena bisa main sama kakak-kakak yang pada baik banget,” ujar Akila.

Aisya juga turut membagikan permainan yang paling ia sukai selama kegiatan berlangsung. Dari berbagai permainan yang dimainkan, congklak menjadi permainan yang paling menarik perhatiannya. Ia mengaku sudah menyukai permainan tersebut sejak dulu sehingga kesempatan untuk kembali memainkan congklak bersama teman-teman dan kakak-kakak Voluntrip menjadi salah satu momen yang paling menyenangkan baginya.

“Hari ini aku paling suka dan paling seru waktu main congklak, karena aku suka main itu dari dulu. Pokoknya aku seneng banget hari ini,” ungkap Aisya.

Tidak hanya Akila, adik-adik lainnya juga turut merasakan kebahagiaan selama mengikuti kegiatan hari itu. Salah satunya kembali disampaikan oleh Aisya yang menggambarkan keseruannya dengan memberikan nilai yang hampir sempurna. Baginya, kegiatan ini tidak hanya menyenangkan karena dapat bertemu dan bermain bersama kakak-kakak Voluntrip, tetapi juga memberikan pengalaman baru untuk mengenal cara bermain berbagai permainan tradisional.

“Seneng banget, kalau di-rate 100/10 karena seru bisa ketemu sama kakak-kakak sama bisa tahu cara-cara bermain permainan tradisional,” ujar Aisya.

Bagi Aisya, pengalaman bermain permainan tradisional menjadi semakin berkesan karena ia dapat mencoba berbagai permainan yang mungkin sudah tidak sering dimainkan dalam keseharian. Dari seluruh permainan yang ada, congklak tetap menjadi favoritnya karena memang sudah ia sukai sejak dulu.

“Aku juga hari ini paling suka waktu main congklak, karena emang suka dari dulu,” tambah Aisya.

Keceriaan yang disampaikan Akila dan Aisya menjadi gambaran bahwa permainan tradisional dapat menjadi cara sederhana untuk menciptakan pengalaman baru yang menyenangkan bagi anak-anak. Tidak hanya mengenalkan permainan tradisional, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi mereka untuk bertemu, bermain, dan membangun kebersamaan bersama kakak-kakak Voluntrip dalam suasana yang penuh tawa.

Kesan dan pesan berikutnya datang dari Ustaz Afriansyah selaku pengurus sekaligus pimpinan Panti Asuhan Anni’mah. Beliau menyampaikan rasa bahagianya karena kegiatan hari itu dapat terlaksana dengan baik. Ustaz Afriansyah juga mengapresiasi kontribusi yang telah diberikan oleh para volunteer dalam mendampingi dan menciptakan suasana bermain yang menyenangkan bagi anak-anak.

“Saya sebagai pengurus sangat berbahagia terhadap acara hari ini, dan terima kasih pada kakak-kakak volunteer atas kontribusinya hari ini. Saya harap bisa bertemu lagi ke depannya,” ujar Ustaz Afriansyah.

Ucapan terima kasih dan harapan yang disampaikan Ustaz Afriansyah menjadi penutup yang hangat dari kegiatan hari itu. Dukungan dari pihak Panti Asuhan Anni’mah tentunya menjadi semangat bagi TGR dan kakak-kakak Voluntrip untuk terus menghadirkan kegiatan yang menyenangkan sekaligus memberikan pengalaman baru bagi adik-adik. Semoga pertemuan dan kebersamaan hari ini dapat menjadi awal dari kolaborasi dan keseruan lainnya di kemudian hari.

Dari kegiatan hari ini, terlihat bahwa permainan tradisional dapat menjadi ruang sederhana untuk menghadirkan kebahagiaan, membangun kebersamaan, sekaligus mengenalkan kembali kekayaan budaya Indonesia kepada anak-anak. Semoga keseruan yang tercipta bersama adik-adik Panti Asuhan Anni’mah dan kakak-kakak Voluntrip hari ini dapat menjadi kenangan manis yang terus diingat.

Sampai jumpa di keseruan bermain permainan tradisional bersama TGR berikutnya, Sobat TGR! Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar! (SYL/e.d AW)

 

Writer: Sylvi Laila Anwar

Editor: Aghnina Wahdini

Graphic Designer: Indiana

Permainan Tradisional Tgrcampaign Traditional Games Returns
Komentari Tulisan