Halo Sobat TGR!
Kalian tentunya tidak asing kan, dengan permainan satu ini? Cublak-cublak suweng adalah permainan yang dimainkan beramai-ramai, di mana salah satu pemain tengkurap dan pemain lain mengelilinginya. Saat permainan mulai, pemain yang membentuk lingkaran mulai memutar benda kecil, bisa kelereng atau batu kecil, di atas punggung pemain yang tengkurap dengan mengoper ke tangan pemain yang lain. Lantas, pemain yang tengkurap harus menebak siapakah pemain yang memegang benda kecil tersebut. Tidak ketinggalan, cublak-cublak suweng makin semarak karena dilengkapi lagu pengiring selama permainan berlangsung.
Sobat TGR tahu nggak sih? Ternyata lagu yang mengiringi permainan cublak-cublak suweng punya banyak makna tersirat dan filosofis lho! Sebelum kita melihat lebih jauh makna lagunya, yuk kita simak lirik lagu Cublak-cublak suweng ini.
Cublak-cublak suweng, suwenge ting gelenter
Mambu ketundhung gudel, pak empo lera-lere, sapa ngguyu ndhelikake
Sir-sir pong dele kopong, sir-sir pong dele kopong

(Dokumentasi TGR Community, 2016)
Lagu dan permainan ini berasal dari Jawa Timur, biasanya dimainkan oleh anak-anak kecil di pedesaan dan bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa. Ada banyak makna di balik lagu ini yang bisa kita ambil manfaatnya. Cublak-cublak suweng sendiri terbagi menjadi dua kata yaitu cublak yang berarti "tempat" dan suweng yang berarti "anting" atau "perhiasan perempuan". Sehingga jika disatukan, cublak-cublak suweng berarti "tempat harta berharga" (Andany, 2019).
Lirik selanjutnya yaitu suwenge ting gelenter bermakna harta yang berhamburan dan dilanjutkan mambu ketundhung gudel yang satu persatu berarti "bau dihalau anak kerbau". Jika dimaknai secara mendalam, ketiga kata di baris lirik tersebut bermakna banyak orang yang mencari-cari harta berharga dengan nafsu dan keserakahan untuk kepentingan pribadi. Orang-orang tersebut dianalogikan sebagai orang-orang bodoh layaknya anak kerbau.
Lalu pada lirik pak empo lera-lere dan sapa ngguyu ndhelikake berarti “bapak ompong melirik ke kanan-kiri” dan “siapa yang tertawa, dia yang menyembunyikan”. Secara filosofis makna lirik ini adalah orang-orang bodoh yang disebut-disebut dianalogikan juga sebagai orang tua ompong yang kebingungan yang hanya mengikuti hawa nafsunya untuk mencari harta duniawi, yang padahal tidak kekal. Sementara lirik lainnya bermakna sebaliknya, bahwa siapa yang bijaksana dalam mengelola harta dan tidak serakah, maka akan menemukan kebahagiaan yang sejati. Orang-orang tersebut tetap bahagia meskipun dikelilingi orang-orang yang berlomba-lomba meraih kemewahan dan kebahagiaan yang sementara.
Pada bait terakhir sir-sir pong dele kopong diartikan sebagai "kedelai kosong tanpa isi" atau hati nurani yang kosong. Maksudnya untuk sampai pada kebahagiaan yang abadi kita harus menghindari kecintaan berlebih terhadap kekayaan duniawi serta bersikap rendah hati, tidak meremehkan orang lain, dan melatih kepekaan hati nurani (Ariesta, 2019).

(Dokumentasi TGR Community, 2021)
Proses dan gerakan permainan cublak-cublak suweng menggambarkan makna yang tersirat dalam lagu tersebut. Saat benda kecil dioper dari satu pemain ke pemain lain, hal tersebut diibaratkan orang-orang yang mencari-cari harta benda meskipun harus merugikan orang lain di sekitarnya. Harta berharga tersebut dianalogikan oleh benda kecil yang digunakan dalam permainan. Setelah lagu selesai, pemain tengkurap harus menebak siapa pemain yang menggenggam benda kecil tersebut. Hal ini bermakna orang yang kebingungan dalam mencari harta dunia yang belum tentu menjadi kebahagiaan sejati.
Selain itu, jika menebak dengan benar pemain tengkurap akan digantikan oleh pemain yang memegang batu, jika salah maka ia kembali harus tengkurap dan permainan berulang kembali. Aktivitas ini dapat menggambarkan bahwa pemain yang bijaksana akan sangat hati-hati dan memperhatikan dengan teliti siapa yang memegang batu tersebut dan akan mendapat kebahagiaan yang sesungguhnya. Sementara jika ia ngasal menunjuk pemain dan salah, hal ini menunjukkan ia tergesa-gesa dan ujung-ujungnya kebahagiaan yang diharapkan tidak pernah datang.
Ternyata permainan yang sangat mengasyikkan ini memiliki banyak makna tersirat dan sangat bermanfaat pada kehidupan sesungguhnya ya Sobat. Oleh sebab itu, yuk kita budayakan permainan tradisional cublak-cublak suweng! Selain seru, mengasyikkan dan mempererat pertemanan, permainan ini juga banyak makna yang bisa kita pelajari dan ceritakan pada teman-teman yang lain! Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar! (AMI/ed.SF)
Referensi:
Andany, A. (2019). Makna Filosofis di Balik Permainan Tradisional Cublak-cublak Suweng. Dikutip dari Kumparan.com: https://kumparan.com/tugujogja/makna-filosofis-di-balik-permainan-tradisional-cublak-cublak-suweng-1sODfFaLMEX/1. Diakses 22 Juni 2022.
Ariesta, F. W. (2019). NILAI MORAL DALAM LIRIK DOLANAN CUBLAK-CUBLAK SUWENG. Jurnal Ilmu Budaya Vol. 7 No. 2, Desember 2019. https://journal.unhas.ac.id/index.php/jib/article/download/7104/4032. Diakses 23 Juni 2022.
Intan, R. (tanpa tahun). Arti Lagu Cublak Cublak Suweng Mengajarkan Kebijaksanaan. Dikutip dari The Asian Parent: https://id.theasianparent.com/cublak-cublak-suweng. Diakses 22 Juni 2022.
Cublak-cublak Suweng Permainan Tradisional Permainan Tradisional Dengan Lagu Lagu FilosofiMitra Kolaborasi:
Copyright © 2017 - 2026 Traditional Games Returns All rights reserved.