Halo, Sobat TGR! Pada tanggal 6 Oktober 2024 lalu, Tim TGR berkesempatan untuk bermain bersama dengan adik-adik dari Panti Asuhan Chairun Nisa, lho! Kegiatan ini, berlokasi di Jakarta Selatan yang dimulai pukul 13.00-16.00 WIB dan Tim TGR tidak sendiri dalam kegiatan ini, melainkan berkolaborasi dengan Yayasan Saya Peduli untuk pelaksanaanya.
Peserta pada kegiatan ini berjumlah dua puluh peserta yang terdiri dari adik-adik panti asuhan, pengurus, Tim Yayasan Saya Peduli, dan tentunya Tim TGR, wah rame banget ya! Kegiatan ini dibuka dengan perkenalan empat belas volunteer dari Yayasan Saya Peduli dan para adik Panti Asuhan Chairun Nisa.

Sesi Perkenalan
(Dokumentasi TGR Community, 2024)
Setelah sesi perkenalan selesai, kurang lengkap rasanya kalau kita tidak mencairkan suasana dengan ice breaking! Ice breaking kali ini, para peserta bermain berbagai permainan tanpa alat yaitu ampar-ampar pisang, cingciripit, dan tebak anggota tubuh. Penasaran? Yuk check this out!

Potret Keseruan Ice Breaking
(Dokumentasi TGR Community, 2024)
Bagaimana, Sobat? Sudah mulai kelihatan keseruannya bukan? Dengan cairnya suasana, mari kita menuju ke sesi yang paling ditunggu, yaitu bermain permainan tradisional!
Pada sesi pertama, permainan yang dimainkan yaitu keprayan, gasing, damdas, cublak-cublak suweng, dan estafet sarung. Permainan dilakukan secara berkelompok dengan jumlah anggota sebanyak lima orang ditambah satu orang dari Tim TGR di setiap kelompok.
Permainan pun dimulai, semua peserta fokus pada berbagai bidang permainan dan tatapan semangat hingga sorak sorai mewarnai suasana kegiatan. Pada saat permainan gasing, satu persatu peserta bergantian mencoba permainan. Ternyata permainan ini tidak sesulit yang dibayangkan, melainkan memerlukan keterampilan agar gasing dapat berputar lebih lama.
Saat permainan cublak-cublak suweng, suara nyanyian antar kelompok saling bersahutan. Sembari ekspresi berpikir dari peserta yang menunduk untuk menebak siapakah diantara peserta lain yang memegang kerikil. Para peserta masih full energi dengan suara penuh dan raut gembira tertera di wajah mereka.
Selanjutnya pada permainan damdas, permainan yang mirip dengan catur ini juga tidak kalah seru karena peserta harus menentukan strategi agar pihak lawan tidak memakan pion milik mereka. Lalu sebelum sesi pertama berakhir ada permainan estafet sarung. Tentunya siapa yang paling cepat mengoper sarung hingga orang terakhir tanpa terputus, dialah pemenangnya.
Kalau hanya cerita doang, sepertinya kurang lengkap gak sih? Sobat TGR sudah penasaran kan, bagaimana keseruan bermain permainan tradisional pada sesi satu ini? Nih, potret keseruannya!

Potret Keseruan Bermain Permainan Tradisional pada Sesi Satu
(Dokumentasi TGR Community, 2024)
Seru kan? Eits, masih belum selesai sampai di situ Sobat, karena masih ada sesi kedua! Sebelum memasuki sesi kedua, ada waktu lima belas menit bagi peserta untuk snack time. Pada sesi ini, peserta makan bersama dengan snack yang telah disediakan dan setiap kelompok akan duduk melingkar kemudian saling bercengkrama selagi sisa waktu istirahat sebelum permainan selanjutnya dimulai.

Snack Time!
(Dokumentasi Yayasan Saya Peduli, 2024)
Permainan terus berlanjut di sesi kedua dengan permainan baru yang dimainkan yaitu dampu bulan, jejak, karet, bekel, dan balogo. Tidak kalah seru dengan sesi sebelumnya, para peserta tetap antusias dan gembira dengan permainan yang dimainkan.
Seperti pada permainan dampu bulan, peserta mengantri bergantian untuk melempar batu dan melompati alas bernomor yang telah disediakan. Ketika permainan karet, peserta saling unjuk kebolehan siapa yang paling tinggi melompat dan melewati karet yang dipegang oleh peserta lainnya.
Satu persatu permainan terlaksana dengan antusias para peserta yang tiada habis. Hingga sesi kedua ditutup dengan permainan balogo yaitu permainan yang mengharuskan peserta untuk menjatuhkan logo agar menjadi pemenang.

Potret Keseruan Bermain Permainan Tradisional pada Sesi Dua
(Dokumentasi TGR Community dan Yayasan Saya Peduli, 2024)
Nah, sudah kerasa kan bagaimana keseruannya bermain permainan tradisional dalam sesi satu dan dua? Sebelum itu, ternyata ada kisah unik lho yang diceritakan oleh Kak Nina terkait salah satu adik panti yang bernama Amara.
“Ada salah satu adik panti kelas 6 yaitu Amara. Dia excited banget untuk nyoba permainannya, waktu di pos lompat karet, kakinya tiba-tiba terkilir karena lompatnya ketinggian. Akhirnya, dia dibantuin dan diobatin sama Tim TGR yang lain, tapi walaupun seperti itu dia masih tetap semangat lho utuk lanjut bermain di pos berikutnya. Malahan dia terus semangat sampai lompat-lompat main dampu bulan,” tambah Kak Nina, Tim TGR.
Salah satu adik panti yang bernama Amara ini dia saking semangatnya bermain, sampai kakinya terkilir. Bukannya berhenti, malahan dia tetap semangat untuk bermain dan masih lompat-lompatan. Luar biasa ya sobat, semangat dari adik-adik panti ini!
Selain dari cerita seru yang disampaikan oleh Kak Nina, ternyata, ada beberapa testimoni dari beberapa volunteer Yayasan Saya Peduli, lho! Kira-kira seperti apa sih?
“Kegiatan kemarin seru banget, aku sangat bersyukur bisa berpartisipasi dalam kegiatan kemarin bersama adik-adik dan kakak-kakak. Kegiatannya bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, kerja sama, dan sportivitas,” ujar Kak Kania Nurzahra, salah satu volunteer Yayasan Saya Peduli.
“Saya sangat berterima kasih atas kesempatan mengikuti kegiatan bersama Traditional Games Returns. Kegiatan TGR ini bukan hanya menyenangkan, tetapi juga sangat bermakna. Kami belajar banyak tentang nilai-nilai kebersamaan, kerja sama, dan semangat persaingan sehat melalui permainan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Kak Esty, volunteer dari Yayasan Saya Peduli.
Berdasarkan pendapat dari Kak Kania dan Kak Esty, kegiatan ini tidak hanya menghibur, namun juga mengajarkan nilai-nilai seperti kebersamaan, kerja sama, dan sprotivitas melalui permainan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Selain itu, Kak Muhammad Halim selaku Social Media Specialist dari Yayasan Saya Peduli Juga mengutarakan pendapatnya.
“Rasanya flashback dengan masa lalu kita, karena zaman sekarang sudah sedikit banget yang tau dengan permainan tradisional ini. Apalagi kemarin itu bukan hanya relawan dan anak-anak di panti saja yang bermain bahkan para pengasuh di panti pun ikut turut bermain bersama kita,” ujar Kak Muhammad Halim, Social Media Specialist dari Yayasan Saya Peduli.
Kak Muhammad Halim menjelaskan bahwa, ia merasa dengan bermain permainan tradisional dapat mengembalikan memori masa kecilnya. Terlebih lagi, ia merasa senang karena semua turut bermain bersama.
Setelah sesi bermain selesai, akhirnya kegiatan di tutup dengan pembagian bantuan paket alat tulis dari Yayasan Saya Peduli. Selain itu, tidaklah lengkap jika tidak ada sesi foto bersama, oleh karena itu “tunjukan senyumnya dan cheese!”

Pembagian Alat Tulis
(Dokumentasi TGR Community dan Yayasan Saya Peduli, 2024)

Potret Foto Bersama
(Dokumentasi TGR Community, 2024)
Begitulah keseruan bermain permainan tradisional dengan Yayasan Saya Peduli bersama teman-teman dari Panti Asuhan Chairun Nisa. Tidak hanya menyenangkan, namun banyak sekali makna yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga nilai-nilai budaya dalam permainan tradisional dapat senantiasa kita jaga dan lestarikan. Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar! (FAU/ed. HRV)
Bagi Sobat TGR yang tertarik bekerja sama dan ingin berkolaborasi dengan kami, mulai dari menjadi pengisi acara, tenant hingga narasumber, hubungi kami dengan klik tautan ini ya, Sobat.