Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Throwback, yuk! Berbagi Kado Natal untuk Adik-adik Panti Asuhan Vita Dulcedo

Minggu, 02 Maret 2025 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 1074 Kali

  Halo, Sobat TGR! Tak terasa ya sudah memasuki hari kedua di Bulan Ramadan, bagaimana puasanya, lancar kan? Nah selain umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa, umat Kristiani pun juga menjalankan ibadah lho, yaitu ibadah wajib hari Minggu.

   Ngomong-ngomong soal ibadah umat Kristiani, tentunya kalian sudah tidak asing dengan yang namanya Hari Raya Natal.  Natal, menjadi momen yang begitu istimewa bagi umat Kristiani karena Yesus Kristus Sang Juruselamat, telah lahir ke dunia untuk menyebarkan ajaran kasih pada umat manusia dan menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. 

   Dalam rangka merayakan Natal, umat Kristiani biasanya melakukan berbagai tradisi tahunan, seperti menghias pohon natal, menampilkan drama tentang kelahiran Yesus Kristus, dan munculnya sosok Sinterklas yang berbagi kado pada anak-anak. Nah, sama seperti yang dilakukan Sinterklas, pada tanggal 26 Desember 2024 lalu Tim TGR dan Voluntrip by Kitabisa berbagi kado untuk adik-adik Panti Asuhan Vita Dulcedo dalam rangka perayaan Natal! 

  Sobat TGR penasaran kan, dengan bagaimana keseruan kegiatan ini? Sebelum kita bernostalgia, yuk kita berkenalan dulu dengan Panti Asuhan Vita Dulcedo! 

Berkenalan dengan Panti Asuhan Vita Dulcedo

  Panti Asuhan Vita Dulcedo merupakan panti asuhan putri yang menjadi salah satu bentuk unik pelayanan di bawah naungan Yayasan Vita Dulcedo dan diasuh langsung oleh suster-suster Kongregasi KYM (Kasih Yesus & Maria Bunda Pertolongan Baik). Yayasan Vita Dulcedo sendiri, berdiri pada tanggal 11 Mei 2007 di Pemantangsiantar, Sumatra Utara.

  Yayasan Vita Dulcedo tidak hanya memiliki satu panti asuhan lho Sobat TGR, melainkan tiga yaitu Pematangsiantar (pusat),  Surabaya, dan Bekasi. Nah, cabang Bekasi inilah yang menjadi lokasi Tim TGR dan Voluntrip by Kitabisa berkegiatan. Panti Asuhan Vita Dulcedo cabang Bekasi ini didirikan pada 6 Agustus 2014 yang berlokasi di Jalan Flamboyan blok KM 10-11 Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat. 

  Sebagai informasi, Panti Asuhan Vita Dulcedo juga menjalankan kerja sama dengan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) lho, untuk memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak yang berasal dari Desa Bomomani, Papua. Mengingat pendidikan di desa tersebut begitu terbatas. Semoga misi mulia ini terus berlanjut sehingga anak-anak dapat menjadi manusia yang beriman, mandiri, berkarakter, terampil, dan berakhlak mulia sesuai dengan visi Panti Asuhan Vita Dulcedo. Setelah membahas Panti Asuhan Vita Dulcedo, mari lanjut ke kegiatannya, ya!

Jalannya Kegiatan di Panti Asuhan Vita Dulcedo

  Acara “Voluntrip Berbagi Kado Natal di Panti Asuhan Vita Dulcedo” dihadiri oleh 27 adik perempuan dari Panti Asuhan Vita Dulcedo, 17 relawan Voluntrip by Kitabisa, tujuh anggota Tim TGR, dan dua suster. Kegiatan dimulai pada jam 09.30 WIB melalui sambutan dari Sr. Hilaria Sinaga, KYM.

Potret Sr. Hilaria Sinaga, KYM Memberikan Sambutan

(Dokumentasi TGR Community, 2024)

  Dalam sambutannya, Sr. Hilaria Sinaga, KYM, mengucapkan selamat datang serta menginformasikan tentang Panti Asuhan Vita Dulcedo kepada Tim TGR dan Relawan Voluntrip by Kitabisa. Setelah itu, Suster Hilaria juga menayangkan video berisi perkenalan anak-anak panti, kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari, serta prestasi yang diraih. Usai menonton video tersebut, terdapat satu kata yang menggambarkan adik-adik panti, yaitu hebat.

  Kenapa? Karena adik-adik panti dapat mengerjakan tugas di panti secara mandiri, berbakat, dan berprestasi. Selain itu, adik-adik panti juga rutin berdoa dan beribadah. Hal-hal positif seperti ini perlu Sobat TGR tiru, ya! 

  Selanjutnya, giliran Kak Nina yang memperkenalkan TGR di depan adik-adik panti bahwa Tim TGR adalah relawan yang ingin melestarikan dan mensosialisasikan permainan tradisional kepada masyarakat. Selesai perkenalan, Kak Nina bertanya kepada adik-adik panti, “Siapa yang mau main?” Sambil mengangkat tangan dengan penuh semangat, adik-adik panti menjawab dengan senang hati, “Sayaaa!!!”

Potret Kak Nina di depan Adik-adik Panti

(Dokumentasi TGR Community, 2024)

  Tak lama kemudian, Kak Nina membuka sesi ice breaking dengan mengarahkan seluruh peserta kegiatan untuk saling bergandengan tangan sambil membentuk lingkaran besar. Sesudah lingkarannya terbentuk, Kak Nina meminta adik-adik panti dan relawan Voluntrip by Kitabisa untuk saling berkenalan satu dengan yang lain sekaligus menghafal kenalannya tersebut agar tercipta suasana yang akrab sebab “Tak kenal maka tak sayang”.

  Sesudah itu, Kak Nina meminta adik-adik panti dan relawan untuk menyebutkan beberapa nama yang sudah dikenal di tengah lingkaran. Banyak adik panti yang mengangkat tangan dengan penuh semangat dan percaya diri agar Kak Nina dapat menunjuknya sehingga bisa menyebutkan nama-nama kakak yang telah dikenalnya.

  Usai ditunjuk dan maju ke tengah lingkungan, walaupun sempat hilang fokus, adik-adik panti tersebut akhirnya berhasil menyampaikan nama-nama kakak relawan dengan baik. Keberhasilan tersebut dirayakan dengan tepuk tangan yang meriah oleh seluruh peserta. Wah, daya ingat adik-adik panti kuat banget, lho!

  

Potret Dua Adik Panti yang sedang Menyebut Nama-nama Kakak Relawan yang Sudah Dikenal 

(Dokumentasi Voluntrip by Kitabisa, 2024)

  Sama seperti adik-adik panti, Relawan Voluntrip by Kitabisa yang diberi kesempatan untuk maju ke tengah lingkaran, juga berhasil menyebutkan nama-nama adik panti. Emang keren deh Relawan Voluntrip by Kitabisa.

 

Potret Dua Kakak Relawan yang sedang Menyebut Nama-nama Adik Panti yang Sudah Dikenal 

(Dokumentasi Voluntrip by Kitabisa, 2024)

  Perkenalan antar peserta pun selesai. Selanjutnya, Kak Nina mengajak seluruh peserta untuk bermain cingciripit yang berasal dari Jawa Barat. Cara bermainnya pun mudah. 

  Pertama, letakkan jari telunjuk tangan kanan di atas tangan kiri peserta yang berada di sebelah kanan Sobat. Kedua, buka telapak tangan kiri Sobat agar peserta yang berada di sebelah kiri Sobat dapat meletakkan jari telunjuk di atasnya. 

 Terakhir, ketika pemimpin permainan menyebut kata “kajepit” saat bernyanyi, “Cingciripit tulang bajing kajepit”, maka jari telunjuk kanan Sobat harus diangkat agar terhindar dari genggaman peserta lain dan telapak tangan kiri Sobat juga harus menangkap jari telunjuk peserta lain.

   Saat bermain cingciripit yang dipimpin langsung oleh Kak Nina, berbagai hal pun terjadi. Ada yang tak terkalahkan, serta ada yang udah nangkep telunjuk jari peserta lain dan mengangkat jari telunjuk kanan duluan walaupun bukan kata “kajepit” yang tersebut. Walaupun begitu, kebahagiaan begitu terasa saat bermain cingciripit lewat senyum dan tawa seluruh peserta.

 

Potret Keseruan Bermain Cingciripit

(Dokumentasi TGR Community, 2024)

 Sesudah bermain cingciripit, Kak Nina meminta adik-adik panti dan kakak-kakak relawan untuk mencari pasangan bermain sebab permainan selanjutnya dalam sesi ice breaking ini adalah bermain ayam-ayaman atau biasa disebut adu jempol, yang mana permainan ini hanya bisa dimainkan oleh dua orang.

  Untuk bermain ayam-ayaman, caranya cukup mudah. Pertama, genggam jari pasangan bermain satu sama lain, kecuali jari jempol. Kedua, angkat jari jempol masing-masing. Terakhir, jari jempol Sobat TGR harus menekan jari jempol pasangan bermain yang menjadi lawan Sobat untuk memenangkan permainan karena jari jempol yang tertekan dinyatakan kalah.

Potret Keseruan Bermain Ayam-ayaman

(Dokumentasi Voluntrip by Kitabisa, 2024)

 Permainan ayam-ayaman saat itu berjalan sengit. Adik-adik panti dan kakak-kakak relawan berusaha menekan jari jempol lawannya dengan teknik atau kemampuannya masing-masing. Walaupun permainan berjalan sengit, seluruh peserta yang bermain ayam-ayaman, tersenyum dan tertawa bahagia.

   Sesi ice breaking belum berakhir setelah bermain ayam-ayaman ya, Sobat TGR karena Kak Nina mengadakan permainan membentuk kelompok sesuai dengan jumlah huruf pada kata yang disebut oleh pemimpin permainan. Cara bermainnya adalah ketika pemimpin permainan menyebut salah satu kata, peserta perlu menghitung jumlah huruf pada kata yang disebut dan segera membentuk kelompok yang jumlah anggotanya sama dengan jumlah huruf pada katanya.

 Namun sebelum itu, Kak Nina menginstruksikan kepada seluruh peserta yang sebelumnya telah membentuk lingkaran besar, untuk memegang pundak peserta yang berada di sebelah kanannya sambil berjalan seperti kereta. Saat berjalan, adik-adik panti menyanyikan lagu sekolah Minggu, seperti “Dengar Dia Panggil Nama Saya” dan “Happy Ya Ya Ya” dengan penuh sukacita.

Potret Keseruan Adik-adik Panti dan Kakak-kakak Relawan Berjalan seperti Kereta

(Dokumentasi Voluntrip by Kitabisa, 2024)

  Nah, setelah lagu telah selesai dinyanyikan, Kak Nina menyebut satu kata, yaitu “Bel”, maka seluruh peserta wajib membentuk kelompok yang berjumlah tiga orang. Seluruh peserta bergerak cepat membentuk kelompoknya. Meskipun sempat panik karena tidak mendapat kelompok, seluruh peserta akhirnya berhasil membentuk kelompok yang berjumlah tiga orang.

Potret Terbentuknya Kelompok Berjumlah Tiga Orang

(Dokumentasi Voluntrip by Kitabisa, 2024)

  Sebagai penutup sesi ice breaking, Kak Nina mengajak seluruh peserta, baik adik-adik panti maupun relawan, untuk bermain ampar-ampar pisang. Maka dari itu, Kak Nina meminta seluruh peserta untuk kembali mencari pasangan bermainnya agar dapat bermain ampar-ampar pisang.  

  Cara bermainnya adalah tepuk tangan bersilang secara berpasangan sambil menyanyikan lagu “Ampar-ampar Pisang”. Setelah lagu berakhir, pasangan tersebut dapat melakukan suit untuk menentukan pemenangnya.

Potret Permainan Tepuk Ampar-ampar Pisang

(Dokumentasi Voluntrip by Kitabisa, 2024)

  Agar permainan lebih seru dan asyik, Kak Nina juga mempercepat tempo lagu “Ampar-ampar Pisang” serta menambah gerakan tepuk yang lebih variatif saat bermain ampar-ampar pisang. Hal ini membuat adik-adik panti dan relawan harus berkonsentrasi penuh saat bermain ampar-ampar pisang. Biar pun bermain dengan penuh konsentrasi, seluruh peserta tampak ceria dan terhibur saat bermain.

  Sesi ice breaking telah usai. Maka dari itu, mari berlanjut ke kegiatan selanjutnya, yaitu kegiatan mewarnai tote bag. Namun sebelum itu, pembagian kelompok dilakukan, yang mana tiap kelompoknya terdiri dari 8-10 orang. 

  Setelah terbagi, kelompok-kelompok tersebut masing-masing membentuk lingkaran kecil dan menerima tote bag, kuas, dan cat warna. Fyi, tote bag yang dibagikan itu bergambar sinterklas, lho. Maka dari itu, seluruh peserta mewarnai sinterklas yang ada pada tote bag tersebut. 

  Ngomong-ngomong soal sinterklas nih, Sinterklas atau biasa disebut juga Santa Claus diambil dari nama seorang uskup Yunani abad ke-4 yang berasal dari Myra yang bernama Santo Nicholas, lho! Selama hidupnya, Santo Nicholas menjual barang-barang miliknya dan memberikan uang dari hasil penjualannya tadi kepada orang-orang miskin. Selain itu, Santo Nicholas mempunyai kebiasaan yang unik, yaitu menaruh koin di sepatu-sepatu orang. 

  Dari kebiasaan tersebut, hal ini menjadi sebuah tradisi perayaan natal untuk membagikan hadiah kepada anak-anak melalui figur Sinterklas. Pada kegiatan mewarnai tote bag, adik-adik panti dan kakak-kakak relawan begitu fokus mewarnai Sinterklas yang ada pada tote bag

Potret Kegiatan Mewarnai Tote Bag Bergambar Sinterklas

(Dokumentasi TGR Community, 2024)

  Setelah selesai mewarnai tote bag bergambar sinterklas, lima kelompok kembali berbaris dengan rapi karena saatnya sesi bermain permainan tradisional. Yeay! Kali ini, Tim TGR mengadakan aktivitas bermain permainan tradisional melalui lima pos yang tersedia. 

  Lima pos tersebut menyediakan lima jenis permainan tradisional, antara lain: gasing, congklak, dampu bulan, ular tangga & jejak kaki tangan, serta keprayan. Setiap kelompok diberikan waktu untuk bermain permainan tradisional. Apabila waktu bermain sudah habis, setiap kelompok bergeser ke pos selanjutnya untuk bermain permainan tradisional lainnya agar seluruh kelompok memperoleh kesempatan bermain lima jenis permainan tradisional tersebut secara bergantian.

Berikut ini pembagian lima pos dengan permainan tradisional beserta fasilitator bermainnya: 

Pos 1: Gasing – Kak Citra

Pos 2: Congklak – Kak Mala 

Pos 3: Dampu bulan – Kak Henrique 

Pos 4: Ular tangga dan jejak kaki tangan – Kak Nasya

Pos 5: Keprayan – Kak Hana

 

Potret Keseruan Adik-adik Panti Bermain Permainan Tradisional

(Dokumentasi TGR Community & Voluntrip by Kitabisa, 2024)

  Adik-adik panti, seperti Frida dan Lydia, mengungkapkan permainan tradisional kesukaannya setelah mengunjungi lima pos untuk bermain berbagai permainan tradisional yang tersedia. Frida menyukai permainan gasing karena seru dan bisa mengulang jika salah memutar gasing. Frida juga mengatakan bahwa dirinya baru bermain gasing yang terbuat bambu. 

Potret Keseruan Bermain Gasing

(Dokumentasi Voluntrip by Kitabisa, 2024)

  Terkait permainan tradisional, Frida berkata, “Dulu pernah main tapi udah lupa, terus ingat lagi.” Ternyata, kegiatan ini mengingatkan adik-adik panti tentang permainan tradisional lagi, lho! Senang banget mendengarnya.

  Sementara itu, Lidya suka bermain congklak. Awalnya, Lydia merasa takut karena belum mengerti cara bermainnya. Meskipun begitu, Lidya merasa senang bermain congklak dan permainan tradisional lainnya setelah diajari oleh Tim TGR dan Kakak-kakak Relawan Voluntrip by Kitabisa.

 

Potret Adik-adik Panti dan Kakak-kakak Relawan Voluntrip by Kitabisa Bermain Congklak

(Dokumentasi TGR Community, 2024)

  Lalu, bagaimana pendapat dari Kakak-kakak Relawan Voluntrip by Kitabisa terkait kegiatan ini? Kak Bianca dan Kak Tasyah mewakili relawan Voluntrip by Kitabisa, menyampaikan pendapatnya tentang kegiatan ini.

 Kak Bianca berpendapat bahwa kegiatan ini mendorong dirinya untuk membaur dengan yang lain sehingga mempererat solidaritas dan toleransi meskipun terdapat perbedaan latar belakang, terutama agama. Kak Bianca pun mengapresiasi kegiatan ini. 

Dengan acara ini, (walapun) kita juga beraneka ragam agama, kita bisa membaur, solidaritas bersama, toleransi untuk kita semua. Keren banget!” seru Kak Bianca salah satu relawan Voluntrip by Kitabisa.

  Selain itu, Kak Tasyah yang juga merupakan relawan Voluntrip by Kitabisa, terkesan dengan kegiatan “Voluntrip Berbagi Kado Natal di Panti Asuhan Vita Dulcedo” karena dapat memahami pentingnya kekeluargaan serta menjaga kelestarian budaya Indonesia dalam bentuk permainan tradisional. Maka dari itu, Kak Tasyah mengatakan bahwa sesi bermain permainan tradisional adalah momen yang paling menarik baginya selama kegiatan berlangsung.

Kegiatan ini bukan cuma ngasih kita pentingnya berbagi, tapi juga kaya kekeluargaan, terus juga melestarikan budaya yang ada di Indonesia yang di mana ada banyak banget.“

“Yang paling menarik itu saat main permainan tradisional sih. Terus juga the fact kalo misalnya ada 2.600 lho di Indonesia permainan tradisional. Terus kita nyoba seru-seru banget, ada yang pertama kali permainan yang aku coba, terus ada juga yang udah emang sering aku denger tapi belum pernah nyoba. Itu seru banget sih. Itu memorable banget, apalagi main sama adik-adik,” ujar Kak Tasyah. 

  Kak Tasyah juga menambahkan bahwa permainan engklek merupakan permainan tradisional yang disukainya selama kegiatan berlangsung karena permainan tersebut membuat tubuh terus bergerak. Selain itu, Kak Tasyah juga berpesan kepada Tim TGR agar terus melestarikan permainan tradisional yang merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia dan juga berharap agar adik-adik panti dapat menceritakan keseruan bermain permainan tradisional bersama Tim TGR dan relawan Voluntrip by Kitabisa kepada orang terdekat. 

Engklek itu seru karena kompetitif banget. Kita tuh flexibility-nya diuji gitu, terus kita jadi banyak gerak. Otomatis kalo banyak gerak, sehat. Jadi yang paling menarik itu.” 

“Ke depannya terus melestarikan budaya Indonesia yang banyak banget yang perlu sebenarnya dilestarikan karena banyak banget yang ga tau tentang budaya-budaya ini yang sebenarnya perlu buat ada edukasinya. Semoga adik-adiknya have fun hari ini dan bisa ingat hari ini sehingga bisa ceritain ke orang-orang lain tentang permainan budaya dan tentang voluntrip itu sendiri,” ujar Kak Tasyah. 

  Tidak hanya Kak Tasyah, Suster Hilaria Sinaga, KYM selaku Penanggung Jawab Panti Asuhan Vita Dulcedo juga terkesan dengan kegiatan kali ini sebab para relawan menyatu dengan adik-adik panti. Suster Hilaria juga menambahkan bahwa baru kali ini terdapat sesi bermain permainan tradisional saat ada kunjungan.

Kesan kegiatan hari ini menggembirakan bersama anak-anak. Relawan dengan anak-anak bergabung bersama. Kegiatan persis seperti (bermain permainan tradisional) ini tidak, tapi kegiatan kunjungan sering, misalnya dari universitas, dari satu kelompok begitu.”

“Baik supaya mereka mengenal (permainan) tradisional yang dulu-dulu karena sekarang mereka tidak pernah lagi tau itu. Kami sangat senang karena kalian datang dengan rame-rame ke sini untuk mengunjungi dan mengajari anak-anak,” kata Suster Hilaria.

  Usai sesi bermain permainan tradisional, ada surprise dari adik-adik panti, lho! Wah, surprise apa, tuh? 

  Surprise-nya adalah adik-adik panti mempersembahkan sebuah lagu dan tari sebagai bentuk terima kasih kepada Tim TGR dan relawan Voluntrip by Kitabisa yang telah meluangkan waktu untuk adik-adik panti, lho! Adik-adik panti menyanyikan lagu tersebut dengan suara yang begitu merdu.

Selain itu, adik-adik panti juga menari dengan baik dan penuh semangat. Maka dari itu, Tim TGR dan Kakak-kakak Relawan Voluntrip by Kitabisa mengapresiasi penampilan keren adik-adik panti dengan tepuk tangan yang begitu meriah. 

Potret Penampilan Adik-adik Panti Vita Dulcedo

(Dokumentasi Voluntrip by Kitabisa, 2024)

  Selesai penampilan keren nan kece dari adik-adik panti, kegiatan ditutup dengan foto bersama adik-adik beserta pengurus Panti Asuhan Vita Dulcedo Harapan Indah, Tim TGR, dan Kakak-kakak Relawan Voluntrip by Kitabisa. Usai foto bersama, Tim TGR dan Kakak-kakak Relawan Voluntrip by Kitabisa membagikan kado untuk Panti Asuhan Vita Dulcedo. 

  

Foto Bersama Tim TGR, Para Relawan Voluntrip by Kitabisa, Adik-adik beserta Pengurus Panti Asuhan Vita Dulcedo

(Dokumentasi Voluntrip by Kitabisa, 2024)

 Dari kolaborasi Tim TGR dengan Voluntrip by Kitabisa dalam kegiatan “Voluntrip Berbagi Kado Natal di Panti Asuhan Vita Dulcedo” di momen Natal ini, terdapat satu hal yang perlu dipahami Sobat TGR untuk dijadikan sebagai sebuah pelajaran. Satu hal tersebut adalah natal bukan hanya tradisi di mana Sobat berbagi kado semata, melainkan Sobat juga dapat berbagi sukacita dan keceriaan kepada sesama yang membutuhkan melalui kegiatan yang seru dan menyenangkan.

Sinterklas bertamu, bawa kado yang besar. Cakep! Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar!” 

  Bagi Sobat TGR yang ingin berkolaborasi dengan kami, baik menjadi pengisi acara, tenant, maupun narasumber, cukup klik tautan di sini, ya! (HCG/ed. AW)  

Journalist: Henrique Carlos Guterres

Editor: Aghnina Wahdini

Graphic Designer: Dinda Priska

QC/Publisher: R. Harvie R. B. R

 

Traditional Games Returns Tgr Care Tgr X Voluntrip By Kitabisa Throwback Acara Natal Kegiatan Natal Berbagi Kebahagiaan Natal Panti Asuhan Vita Dulcedo Natal 2024 Perayaan Natal
Komentari Tulisan