Halo, Sobat TGR! Pernah kepikiran ga sih kok anak jaman sekarang masih kecil udah ngerti tentang cinta-cintaan ya? Kita yang terlalu kolot di masa yang modern ini atau malah pandangan kita benar tentang anak kecil itu belum waktunya untuk merasakan cinta yang mengarah ke romantisme?
Perkembangan teknologi sekarang membuat anak mudah untuk bisa mengakses internet. Apalagi kalau orang dewasa sekitarnya sibuk dengan urusannya masing-masing, sehingga tidak ada cara lagi selain memberikan gadget untuk menjaga anak tetap dalam jangkauan.
Beragamnya informasi yang dapat diakses oleh anak membuat mereka dapat melihat secara keseluruhan isi konten tanpa filter. Semua yang disaksikan akan disimpan sebagai referensi mereka dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Mulai dari tontonan kartun, game mobile, film, bahkan sampai konten orang dewasa yang sedang menjalin hubungan asmara atau pacaran dapat diakses oleh semua orang termasuk anak-anak. Tidak adanya pengawasan terhadap anak dalam mengakses dunia maya dapat membuat mereka berpikiran semua yang ada di layar adalah kenyataan.
Tumbuhnya perasaan yang baru dirasakan oleh anak ketika melihat tontonan atau lingkungan sekitar secara langsung adalah hal yang wajar. Ketika anak merasakan rasa "cinta", maka momen ini menjadi tak terlupakan bagi mereka sehingga timbul ketertarikan kepada lawan jenis.
Hal seperti tertarik kepada lawan jenis hingga hubungan romantisme adalah sesuatu hal yang kita anggap belum dibutuhkan pada usia anak-anak. Namun, ternyata pengalaman tersebut dapat mempengaruhi perkembangan psikologis dan sosial anak.
Dampak dari hal tersebut bisa menghasilkan kesan yang positif dan negatif pada anak. Jika mereka mengalami patah hati dan tidak menerima bantuan, maka mereka dapat kehilangan motivasi, berperilaku agresif, atau bahkan yang lebih buruk lagi yaitu bunuh diri.
Ada beberapa kasus ekstrim yang terjadi di Indonesia karena patah hati. Salah satunya adalah ditemukannya siswa kelas 3 SMP yang tewas gantung diri dan menuliskan pesan di sebuah pintu sebuah rumah yang berjarak sekitar tiga meter dari lokasi korban (Ariefana, 2020).
Ilustrasi Coretan Dinding Anak SMP Bunuh Diri karena Putus Cinta
Miris banget ya, Sobat TGR? Seharusnya perasaan cinta ini membuat bahagia, tapi karena cintanya tidak terbalas ada perasaan patah hati dan tidak bahagia. Dalam hal ini, orang tua memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi anak-anak.
Perasaan yang membuat bahagia, hati berdebar, dan tersipu malu kepada lawan jenis merupakan tanda anak sedang merasakan cinta pertamanya. Artikel ini akan membahas lebih rinci tentang perasaan cinta yang pertama kali dirasakan oleh anak-anak. Sobat TGR simak baik-baik ya!
Sobat TGR, pasti pernah kan mengalami perasaan suka terhadap lawan jenis? Entah teman sekelas atau bahkan kakak kelas sekalipun, menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan. Pengalaman ini menimbulkan perasaan berdebar-debar dan senang jika diajak ngobrol oleh seseorang yang kita sukai. Sampai-sampai nih ya, ga jarang kita waktu pulang ke rumah suka senyum-senyum sendiri dan rasanya ingin segera bertemu kembali, hayoo ngaku!"
Hal ini dapat dirasakan oleh anak dan adik kita juga loh! Senyum tersipu, tatapan malu-malu, atau semangat tiba-tiba saat bercerita tentang seseorang bisa juga disebut sebagai cinta pertama. Anak yang sedang mengalami cinta pertama mungkin akan lebih terbuka tentang perasaannya atau bahkan sangat menutupi perasaannya karena malu.
“Aduuh… masih kecil kok udah cinta-cintaan sih?” Perasaan suka terhadap lawan jenis saat masih dalam fase anak-anak, disebut "cinta monyet". Sobat TGR sudah tahu belum kenapa pengalaman cinta anak-anak disebut sebagai cinta monyet?
Cinta monyet yang dimaksud bukan secara harfiah ya, bukan cinta sama monyet! Kadir (2011) menjelaskan bahwa fase cinta-cintaan pada masa anak-anak ini disebut cinta monyet karena adanya persamaan sifat, gestur, hingga bahasa tubuh pada manusia dan "monyet" sebagai hewan yang suka bermain-main. Hmmm, masuk akal juga sih.
Ketika anak mulai merasakan ketertarikan terhadap lawan jenis, ada beberapa perasaan yang dilibatkan (suka, cemburu, kebingungan, dan harapan). Hal ini dapat membentuk pandangan anak tentang cinta di masa depan.
Ilustrasi Cinta Pertama
Perasaan baru, yaitu cinta terhadap lawan jenis yang dimiliki oleh anak akan membuat perubahan terhadap perilaku mereka. Perubahan perilaku tersebut biasanya menunjukkan perasaan intens dan obsesif, karena hal itu hubungan yang sedang dijalani sering kali tidak berakhir langgeng dan stabil (Fatimah dkk, 2023).
Nah, oleh karena itu perubahan perilaku ini menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua, terutama dalam perkembangan emosi mereka. Sehingga, untuk menunjang hal ini, anak harus diberi rasa cinta-kasih sayang, rasa saling memiliki, rasa diterima apa adanya, diberi kesempatan untuk mandiri dan memilih keputusannya sendiri, rasa aman, serta diperlakukan sebagai seseorang yang mempunyai identitas sendiri (Sari, 2020).
Oleh karena itu, daripada memberi larangan kepada anak untuk mengeksplorasi perasaan cinta monyetnya, alangkah lebih baik kita mendengarkan mereka terlebih dahulu. Sobat TGR bingung bagaimana cara menyikapinya? Berikut cara menyikapi anak yang baru mengenal romansa!
"Emosi yang tidak terekspresikan tidak akan pernah mati. Mereka dikubur hidup-hidup dan akan tampil nanti dengan cara yang lebih buruk." - Sigmund Freud
Sigmund Freud dalam Alwisol (2014) juga mengatakan bahwa perasaan cinta bukan hanya melibatkan perasaan tetapi juga melibatkan peran orang lain yang dapat berdampak besar pada kita. Artinya, perasaan cinta dipengaruhi karena adanya interaksi intens dan kehadiran dari orang lain sehingga, respons atau sikap orang yang kita sukai dapat memengaruhi kondisi emosi bahkan fisik kita.
Fisik yang terpengaruhi akan mengalami peningkatan, seperti detak jantung yang lebih cepat, tekanan darah yang meningkat, dan keringat yang mengucur. Ini loh yang bisa membuat kita salting alias salah tingkah, hihihi~
Ilustrasi Orang Tua Memvalidasi Perasaan Anak
Sobat TGR, memvalidasi perasaan dan tingkah laku bukan hanya dibutuhkan orang dewasa, loh! Justru memvalidasi perasaan pada anak sangat diperlukan untuk membantu mereka belajar bahwa emosi yang dirasakan itu penting dan boleh dirasakan.
Ketika anak menceritakan tentang perasaannya kita sebagai orang dewasa sepatutnya mendengarkan dengan empati, memberi perhatian penuh, dan merespon dengan menerima kenyataan bahwa mereka sudah bisa merasakan perasaan cinta. Hal ini termasuk ke dalam proses validasi perasaan.
Anak-anak akan merasa dihargai dan didengar jika kita menjadi pendengar yang baik (Meilisa, 2023). Sedangkan, anak yang tidak divalidasi bisa berdampak jangka panjang karena cenderung memendam perasaannya sendiri.
Merespons cerita anak dengan validasi merupakan hal awal yang bisa dilakukan oleh orang tua, selanjutnya orang tua dapat berbagi perspektif dan saran yang membantu anak untuk menghadapi perasaan yang sedang dirasakannya.
Saat anak memiliki pengalaman pertamanya dalam hal merasakan rasa cinta atau kita sebut sebagai “Cinta Monyet” ini, tentunya mereka masih belum mengetahui apa yang benar dan salah ketika berhadapan dengan orang yang disukainya. Pengalaman tersebut akan membentuk pandangan mereka tentang cinta di masa depan.
Memulai pembicaraan tentang cinta pertama pada anak sebaiknya, orang tua melakukan pendekatan dengan cara yang santai, hangat, dan tidak mengintimidasi anak. Pilih waktu yang tepat pada saat anak dan orang tua sedang nyaman.
Ilustrasi Orang Tua sedang Mengobrol dengan Anak
Orang tua dapat memulainya dengan cara menceritakan kisah cinta pertamanya. Dengan hal ini, anak jadi lebih mengetahui bagaimana cara menyikapi kisah “cinta monyet”-nya. Seperti pendapat Fatimah, dkk (2023) yang menjelaskan bahwa persepsi anak terhadap perasaan cinta dapat dipengaruhi juga dari lingkungan keluarganya. Lagi pula, anak-anak selalu memperhatikan gestur-gestur kecil dari dinamika sosial lingkungan sekitar mereka dan memproses semua informasi itu untuk membentuk pemahaman sendiri (Kadir, 2011).
Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kematangan emosionalnya baik akan memahami cinta sebagai hal yang hangat, memahami, dan bersatu. Sebaliknya, anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang negatif akan memiliki pemahaman yang berbeda tentang cinta, sehingga anak dapat mengalami ketidakbahagiaan (Ulfah, 2017).
Memberikan validasi, perspektif, dan saran kepada anak yang sedang mengalami rasa cinta tentunya hal yang sangat penting bagi perkembangannya. Saat anak merasa dipahami dan tidak dihakimi, mereka akan merasa lebih nyaman untuk lebih terbuka menceritakan pengalamannya. Hal ini tentunya tidak boleh sampai terputus begitu saja dengan begitu orang tua tetap harus menjaga komunikasi dengan anak.
Ketika anak bercerita tentang perasaan cintanya, pasti ada rasa khawatir dalam diri kita seperti, “Duh gimana ya kalau dia melakukan hal yang tidak senonoh secara diam-diam?” Sudah diberi validasi, sudah diberi nasihat, dan sudah diberi saran tapi takut malah kecolongan.
Masalah ini tentunya dapat dicegah dengan cara selalu menjaga komunikasi terbuka dengan anak, sehingga menghasilkan hubungan yang saling percaya dan tidak berjarak. Pada saat anak menceritakan orang yang mereka suka, orang tua harus menunjukkan bahwa mereka bisa berbicara tanpa takut dihakimi.
Mulai dari hal kecil, yaitu mengajak ngobrol ringan anak secara rutin dan gunakan pertanyaan yang terbuka. Tidak adanya perhatian dari orang tua menyebabkan anak jadi menutup diri dan melakukan tindakan ekstrim dalam berhubungan dengan lawan jenis (hubungan intim pranikah) (Setijaningsih dkk, 2019).
Ilustrasi Orang Tua Berkomunikasi dengan Anak
Dampak positif dari anak yang selalu berkomunikasi dengan orang tuanya adalah memiliki kematangan emosi yang baik. Sari (2020) mengungkapkan bahwa perkembangan emosi yang sehat pada anak dipengaruhi oleh cinta dan kasih sayang, rasa memiliki, penerimaan tanpa syarat, serta kepercayaan dan kesempatan untuk mandiri. Anak perlu merasa aman, didukung, dan dihargai sebagai individu.
Anak yang dikelilingi oleh cinta dan kasih sayang orang tuanya akan menghasilkan anak yang dapat menerima kenyataan dengan baik dan tidak mengeluh tentang hal-hal kecil (Dutta dkk, 2015). Jika anak memiliki kematangan emosi yang baik maka anak cenderung lebih tangguh secara mental, mereka dapat berpikir lebih rasional saat menghadapi masalahnya sendiri.
Setelah anak memiliki mental yang tangguh, orang tua harus mengetahui bahwa anaknya akan memiliki prinsip yang kuat. Sehingga, menanamkan batasan dalam pergaulan pada anak sangat penting untuk diajarkan.
Maraknya istilah "pacaran" dalam dunia anak-anak bisa menyebabkan dampak yang negatif. Dampak negatif ini, dapat timbul ketika anak kecil menunjukkan kasih sayang yang terlalu berlebihan. Hal ini didukung dengan sifat dari anak kecil ketika merasa sayang, seringkali mereka menunjukannya dengan cara langsung seperti mencium, memeluk, dan membelai hal yang mereka cintai (Nurhidayati, 2011).
Situasi ini tentu saja membuat orang tua sangat khawatir jika sampai anaknya salah pergaulan. Menjaga batasan pergaulan anak adalah tugas penting bagi para orang tua. Tujuannya untuk mengajarkan memilih mana pergaulan yang sehat dan mana yang berisiko.
Orang tua bisa membuat batasan yang jelas, tetapi fleksibel untuk anak. Contohnya adalah atur jam keluar rumah, aktivitas menggunakan gadget, dan jangan lupa untuk libatkan anak dengan menanyakan pendapatnya terhadap batasan-batasan yang akan diterapkan.
Ilustrasi Orang Tua menjaga Anak
Batasan yang paling penting diajarkan kepada anak adalah tentang konsep consent atau persetujuan. Batasan tersebut juga upaya untuk mencegah anak menjadi korban pelecehan seksual. Arti dari consent atau persetujuan disini adalah harus diberikan secara sukarela, tanpa dipaksakan, atau melalui manipulasi yang artinya semua pihak harus mencapai kesepakatan untuk melakukan tindakan tersebut.
Orang tua juga harus membiasakan meminta izin sebelum menyentuh anak, seperti saat ingin memeluk atau mencium mereka. Ini membantu anak memahami bahwa mereka juga berhak meminta izin dan meminta persetujuan kepada orang lain.
Nah, gimana nih Sobat TGR setelah membaca artikel di atas? Perasaan cinta itu wajar dirasakan oleh individu termasuk anak-anak. Tugas kita sebagai orang dewasa adalah mengawasi dan membimbing anak atau adik kita agar tidak terjerumus pada hal yang negatif.
Maka daripada kita mengabaikan anak atau adik kita yang sedang memiliki perasaan yang baru dirasakan, mari kita jadikan pengalaman ini sebagai jembatan untuk memperkuat komunikasi dan membangun kepercayaannya yang akan tumbuh seumur hidup. Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar! (YS/ed. MIQ dan HRV)
Untuk Sobat TGR yang tertarik untuk berkolaborasi dengan kami, baik untuk menjadi pengisi acara, tenant, atau bahkan narasumber. Yuk, klik tautan di sini untuk info lebih lanjut!
Writer: Yalda Suvita
Editor: Miqdar Dzulfikar dan R. Harvie R. B. R
Graphic Designer: Indi
QC/Publisher: R. Harvie R. B. R
Alwisol. (2014). Psikologi kepribadian (Edisi revisi ke-12). UMM Press.
Ariefana, P. (2020). Anak SMP gantung diri tinggalkan pesan mendalam: Rafi cinta mati Vita. Suara Bekasi. Diakses dari https://bekaci.suara.com/read/2020/12/13/114151/anak-smp-gantung-diri-tinggalkan-pesan-mendalam-rafi-cinta-mati-vita
Dutta, J., Chetia, P., & Soni, J. C. (2015). A comparative study on emotional maturity of secondary school students in Lakhimpur and Sonitpur districts of Assam. International Journal of Science and Research, 4(9), 168-176.
Fatimah, O. Z. S., Hidayah, S. N., & Rahmanindar, N. (2023). Studi fenomenologi persepsi remaja tentang puppy love (cinta monyet). Journal Research Midwifery Politeknik Tegal, 12(02).
Kadir, H. A. (2011). Cinta monyet dalam memori remaja Indonesia. Jurnal Sosiologi Andalas (Andalas Journal of Sociology), 11(2).
Meilisam, A. A. (2023). Kenali cara validasi perasaan anak dan kalimat yang wajib orang tua hindari. Parapuan. Diakses dari https://www.parapuan.co/read/533946466/kenali-cara-validasi-perasaan-anak-dan-kalimat-yang-wajib-orangtua-hindari
Nurhidayati, T. (2011). Pendekatan kasih sayang. Jurnal Falasifa, 2(2), 1-12.
Sari, P. P., Rahman, T., & Mulyadi, S. (2020). Pola asuh orang tua terhadap perkembangan emosional anak usia dini. Jurnal Paud Agapedia, 4(1), 157-170.
Setiawan, R., & Nurhidayah, S. (2008). Pengaruh pacaran terhadap perilaku seks pranikah. SOUL: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi, 1(2), 59-72.
Ulfah, D. A. (2017). Hubungan kematangan emosi dan kebahagiaan pada remaja yang mengalami putus cinta. Jurnal Psikologi, 9(1).
Traditional Games Returns Tgr Parenting Cinta Monyet Cara Menyikapi Anak Cinta Monyet Tips ParentingMitra Kolaborasi:
Copyright © 2017 - 2026 Traditional Games Returns All rights reserved.